Uang Kembalian yang Diniatkan sebagai Sedekah

Duit Rp50 ribu
Semoga mengingatkan saya akan kebaikan. Foto - nurali/gooday

GOODAY – Semingguan lalu, seseorang meneleponku. Pakai fasilitas call on phone, pakai pulsa nggak pakai Voice Call WA. Bukan apa-apa, temanku yang satu ini memang tak memiliki WA.

Saat itu saya tengah mengerjakan artikel. Dia nanya apakah ada waktu untuk membantu membuat stiker kecil. Seingatku, temanku yang satu ini memang tak pernah buat stiker besar.

Maklum, sebagai pekerja biasa di sebuah pabrik pembuatan kapal ia juga menyambi sebagai pembuat replika kapal dari fiber. Ia pernah bercerita jika kepandiannya itu hanya dari melihat. Setiap hari bergelut dengan bahan pembuat kapal, ia akhirnya coba-coba membuatnya dalam ukuran mini.

Konsumen pertamanya ialah pemesan kapal yang dibuat di pabrik tempatnya bekerja. Pesanan itu datang setelah ada yang tahu hasil karyanya yang dibuat dalam waktu cukup lama, karena masih belajar.

Ia datang dengan sepeda motornya ke tempatku bekerja. Ia sebutkan pesanannya. Ukurannya tingginya ia gunakan istilah setengah, tiga perempat centi. Lebarnya paling panjang juga 9 centimeter.

Begitulah teman saya ini. Ia melihat tulisan apa saja yang ada di bodi kapal sungguhan yang dibuat di pabrik tempatnya bekerja. Lalu ia membuat ukuran mininya, karena akan dipasang di replika kapal.

Saya hafal pesanannya. Untuk satu kapal utuh ia buat stiker nama kapal, GT, nomor IMO dan bendera serta lis-lis untuk bodinya. Harga stikernya juga paling tinggi 20 ribuan.

Saya cutting pesanan dia sambil menyelesaikan mengedit artikel untuk suarasiber.com. Dan pesanan dia pun selesai. Dia mati-matian menolak kalau saya suruh ngopeki sendiri. Takut salah alasannya.

Ya sudah, sama adik yang ada di toko sebelah akhirnya pesenannya diselesaikan, tinggal pasang.

Lalu ia sodorkan selembar uang kertas Rp50 ribu. Saya bilang kalau ada uang pas Rp10 ribu saja.

“Wis ora popo, memange wis tak niati arep wenehi sampeyan kok,” katanya.

Artinya, sudah tak apa-apa, memang sudah saya niati untuk memberi Anda, kok. Anda adalah saya sebagai yang telah membuat stikernya.

Saya tetap minta ambilkan Rp40 ribu, terdiri dari dua lembar uang kertas Rp20 ribuan. Namun teman saya bersikeras menolaknya.

“Alhamdulillah, kapal cilikku wingi dibayar. Gur kurang stiker iki,” katanya sambil menunjuk stiker yang barusan selesai dibuat.

Versi bahasa Indonesianya: alhamdulillah kapal kecilku (replika) sudah dibayar kemarin. Hanya kurang stiker ini.

Ia sampaikan ingin sedekah kepada saya.

Saya pandangi selembar Rp50 ribu yang diberikan teman saya tadi. Saya menyukai cara hidupnya, apa adanya. Dan bagi saya, uang darinya rasanya uang paling besar nilainya sepanjang saya pernah membuat stiker.

Jangankan mengikhlaskan kembaliannya, paling banyak ya minta diskon. Meski sudah lama saya lebih aktif mengurus portal dan blog ini, saya masih sering mendengar konsumen merayu-rayu minta diskon kepada adikku yang ngurus stiker.

Saya jabat tangannya, saya ucapkan doa-doa baik buatnya. Dan dengan ekspresi sungguh-sungguh, ia mengaminkan. Kemudian ia balik.

Saya masukkan uang itu, saya lipat jadi dua dan saya selipkan di tempat di dompet lusuhku. Tidak saya campur dengan uang yang dengan mudah keluar masuk untuk belanja dan sebagainya.

Semoga mengingatkan saya. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com