Terpuruk dari Puncak Sukses, Suami Istri Ini Coba Raih Kembali Impiannya, Akhirnya…

GOODAY – Diler sepeda motor yang dibangunnya dari kecil berkembang pesat. Untuk menampung kendaraannya, satu ruko tak cukup sehingga harus dibangun lagi. Sementara ribuan ekor bebek dan telur juga tiada henti menyokong pundi-pundinya.

Jika bicara tiga tahun lalu, begitulah kondisi Awi. Masih muda, kaya raya. Bersama istrinya, warga sebuah kecamatan di Jawa Barat ini bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tempat tinggal, kendaraan dan sebagainya. Mereka mendapatkan kesuksesan di usia muda.

Pasangan ini tak membiarkan anak-anak mereka berangkat sendiri, melainkan diantar sopir. Untuk belanja, Awi memberikan kebebasan istrinya menghabiskan sekian juta.

Namun semua itu tidaklah abadi. Karena keteledoran dengan pengelolaannya, semuanya habis dalam waktu setahun. Hingga akhirnya keluarga ini pindah ke Tanjungpinang.

Hanya baju yang ada dalam tas dan koper bekalnya. Ada uang juga nilainya tak seberapa, hanya untuk bertahan beberapa hari. Yang dibutuhkan segara oleh Awi adalah tempat tinggal. Maka dicarilah rumah kos yang murah, meski kondisinya beberapa tempat bocor.

Dua anak Awi, sejak dibawa ke Tanjungpinang tak lagi bisa sekolah semua. Yang pertama harusnya kelas VIII SMA, terpaksa bekerja di sebuah toko pakaian. Sementara adiknya yang masih SD sekolah dekat rumah kos.

Untuk menyambung hidup, Awi mengelola usaha es kelapa muda di Tanjungpinang. Ia memilih tempat di depan Jalan Pemuda, seberang jalan dengan Asrama Haji. Karena tak mampu membayar sewa per tahun, sewa kepada pemilik ruko per bulan.

Keperluan lain sebisa mungkin dibuat sendiri, kecuali yang memang harus membutuhkan ahlinya, seperti peralatan pecah belah harus dibeli. Sebulan menekuni usahanya, Awi masih seperti orang linglung. Ia lebih sering terbayang masa jayanya. Apalagi melihat anak bungsunya harus tidur di bawah meja barang karena ikut menunggu.

Betul-betul mengawali usaha dari kecil. Karena pandai memasak, makanan yang awalnya hanya ketoprak dan karedok pun ditambah menu lain. Jadilah nasi goreng, mi goreng, sate ayam dan sebagainya. Pelan-pelan Awi mengelola usaha dengan hati-hati.

Ketika keuangannya sudah membaik, ia pun pindah rumah kontrakan yang lebih dekat dengan tempatnya jualan. Satu persatu ia melengkapi kebutuhannya untuk berjualan. Seperti kulkas untuk menyimpan bahan-bahan agar tak basi.

Namun Tuhan selalu memiliki rencana. Awi belakangan sering merasa sedih. Semua karena teringat orang tuanya.

“Ibu saya sakit karena saya. Mereka menanggung malu karena ulah saya,” ujar Awi suatu hari.

Ketika usahanya bangkrut, Awi memang masih menyisakan utang yang jumlahnya cukup besar untuk orang tuanya. Utang-utang itu kebanyakan uang mitranya yang belum sempat mendapatkan baliknya modal namun usahanya keburu jatuh.

Baca Juga:

http://gooday.id/2019/03/03/tauhid-menantang-keangkuhan-zaman-dengan-odong-odong/

Cobaan Bertubi Tak Goyahkan Semangat Lelaki Tangguh Ini untuk Tetap Berwirausaha

Kerikil Terjal dan Tajam Iringi Perjalanan Band Rock Kepri Rekaman di Jakarta

Ini Lagu Alm Ustaz Harry Moekti yang Keren Banget untuk Membakar Semangat

Bersikap Kritis di Waktu yang Tipis

“Saya juga memiliki uang di tangan beberapa teman, tetapi ketika saya minta tak ada balasan. Bahkan saya juga sempat kehabisan banyak uang untuk mengurus uang-uang saya tadi, namun gagal,” imbuh Awi.

Hingga suatu hari, ayah dan suami yang biasanya tangguh ini mendadak tersungkur. Ia mendapatkan kabar salah satu orang tuanya, yakni ayahnya meninggal. Padahal hal itulah yang paling membuatnya takut. Karena ia merasa belum sama sekali membuat mereka bahagia dan senang.

Celakanya lagi, dari enam atau lima saudaranya semuanya perempuan. Mau tak mau Awi harus bisa menggantikan peran ayahnya pada dirinya. Dengan air mata berlinang, saya antar keluarga ini ke Bandara Raja Haji Fisabilillah, meninggalkan Tanjungpinang, meninggalkan kenangan, meninggalkan perjuangan.

Awi yang tak malu membawa keranjang di jok motornya, yang tak menghiraukan kantuknya hanya untuk menghabiskan stok sate ayamnya, yang harus pontang-panting mengantarkan istrinya ke pasar pagi-pagi, lalu ganti mengantar anaknya sekolah dan berangkat bekerja, saya lihat sangat rapuh.

***

Beberapa waktu lalu Awi sempat menelepon. Mengabari. Kondisinya tak jauh lebih baik dari hari-harinya di Tanjungpinang. Namun ia masih punya semangat. Begitulah petarung. “Mohon doanya, Mas, saya harus bangkit dari semua ini,” ujarnya lirih.

Ia akhirnya menyadai sepenuhnya garis rezeki sudah ditetapkan kepadanya sejak masih dalam kandungan. Ia hanya akan mencoba meraihnya, jika memang takdirnya berkecukupan Allah punya banyak cara. Namun ketika sebaliknya? “Doakan saja saya bisa menerimanya,” tututpnya.

Saya kemudian membuka instagram saya dan melihat lagi video aneka menu masakan Awi dan istrinya yang sudah mendapatkan tempat di lidah warga. Selamat berjuang, kawan. *** -Nurali Mahmudi-

Caption featured image: Awi dan istrinya di warung kakilimanya di depan Asrama Haji yang kini tak ada lagi karena semuanya sudah digariskan Allah SWT. Foto – gooday.id

About: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com