Tak Sangka Jadi Bupati Anambas, Haris Pernah Jadi Kuli Bangunan

abdul haris bupati anambas dht567
abdul haris bupati anambas 56367
Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas, Abdul Haris melepas peserta Pawai Pembangunan Anambas Bermadah, Agustus 2019. Foto – anambaskab.go.id

Masih ingat bagaimana Haris kecil rela mendayung sampan dua jam saban hari untuk berangkat sekolah? Lalu menaruh sayuran orangtuanya ke sejumlah warung sebelum berangkat sekolah SMA? Inilah kisah hidup Abdul Haris selepas SMA.

Tamat SMA, Haris remaja berangkat ke Pekanbaru. Tujuannya ingin mendaftarkan diri sebagai Calon Bintara Polri. Percaya diri dengan bentuk badan yang tinggi besar. Namun Tuhan berkehendak lain. Ada salah satu berkas yang datangnya terlambat, karena waktu itu pengiriman dokumen dari Anambas ke Pekanbaru tidak semudah sekarang.

Sekarang mah gampang. Kalau jarak dekat bisa pakai jasa ojek online. Tinggal buka aplikasi lalu pilih tujuan, barang yang akan dikirim, beres. Sementara untuk jarak jauh juga banyak kurir yang bisa dijadikan pilihan.

Di daerah juga gampang menemukan kantor pos, jika jasa pengiriman swasta tak ada. Itu sekarang. Dulu, ya kasus yang menimpa Abdul Haris bisa saja menimpa siapa saja.

Haris yang sehabis pulang sekolah di SMA melanjutkan bekerja di kebun pun mengalihkan cita-citanya, guru. Untuk itu ia ikut tes masuk Diploma II keguruan di sebuah perguruan tinggi di Pekanbaru. Dan… tak lolos.

Dua profesi tak berpihak kepadanya, Haris pun belum putus asa. Kali ini ia ingin menjadi jaksa, jadi pegawai negeri di kejaksaan. Berkat kesabaran dan keuletannya serta doa, ia diterima di Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru, Riau. Haris lulus, dan kuliah hingga tamat dengan gelar Sarjana Hukum (SH).

Namun bangku kuliah bagi Haris bukan berarti menikmati masa menyenangkan. Justru ia harus memikirkan bagaimana membiayai kuliahnya. Pekerjaan yang paling mudah saat itu ialah kuli bangunan. Ke sanalah Haris menuju.

Meski ia sadar mengaduk semen itu berat, mendorong adukan berat, dan semuanya berat di lapangan. Haris menikmatinya sebagai berkah. Dalam kemiskinan seperti itu Haris masih bisa bersyukur. Pun kala jam makan datang, ia harus memasak sendiri. Sementara buruh lain kebanyakan membawa rantang bekal dari rumah.

Biar ngirit, karena kalau tak ngirit juga tak ada uangnya, Haris membawa bekal ikan asin dari kampungnya ketika balik ke Pekanbaru. Itulah sebabnya lelaki yang kini menjadi Bupati ini bisa merasakan sebuah masakan enak atau tidak di lidah. Karena selama kuliah ia ditempa harus masak sendiri, lama-lama tahu resep masakan yang enak.

Kiriman dari orang tuanya tetap ada, namun Haris tak terlalu mengharapkannya karena menyadari kondisi orang tuanya.

Alhamdulillah, Haris akhirnya diwisuda sebagai sarjana hukum. ia pun kembali ke cita-citanya yang ke sekian, jaksa. Ia pun mengikuti seleksi dan gagal.

Dilansir dari suarasiber, Haris pun menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Ia biarkan hidupnya mengalir seperti air. Namun ia tetap berusaha dan berdoa.

Sulitnya mencari pekerjaan di Pekanbaru mengharuskan Haris akhirnya merantau ke Batam. Haris yang seorang sarjana melamar ke sejumlah mal di Batam. Tak ada panggilan. Padahal ia sudah bertekad, mau dijadikan buruh penunggu gudang pun ia siap.

Haris bergesar ke Tanjungpinang, yang sekarang menjadi Ibu Kota Provinsi kepri. Sekitar tahun 1998, Haris mencoba melamar sebagai personalia di Hotel Central Batu 6 Tanjungpinang. Dia diterima. Tapi sebagai satpam, karena badannya besar.

Satpam hotel hanya dijalaninya selama setahun. Setelah itu ia pulang ke Tarempa. Kepulangan inilah yang ternyata mengubah jalan hidupnya (masih bersambung ya)

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com