Sebuah Nasihat Tentang Cari Jodoh

cari jodoh
Yang lagi cari jodoh, ramahlah dengan banyak orang, karena siapa tahu diantara sekian banyak orang itu kelah menjadi pendampingmua. Foto - gooday

GOODAY – Cari jodoh? Sepertinya sebuah pertanyaan sederhana, ya? Hanya dua kata. Namun percaya, pasti ada yang bingung setengah mati ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu.

Ibu saya kebetulan guru sekolah dasar di sebuah desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ibu mengampu mata pelajaran agama Islam. Maklum, ia lulusan PGA di Lasem (seingat saya hehe).

Ibu suka bercerita apa saja. Meski bagi saya galaknya minta ampun, namun belakangan (belakangan banget) saya menyadari semua itu sebenarnya petuah bijak dari orang tua.

Termasuk soal jodoh. Untuk urusan satu ini, ibu saya cukup sederhana memberikan petuah. Ada beberapa hal yang masih saya ingat sampai saat ini. Bagi kalian yang masih jomblo dan tengah cari jodoh, silakan dicoba kalau memang mau.

Pertama, ibu saya selalu mengharapkan saya dan saudara-saudara saya selalu ramah terhadap semua orang. Contohnya ndeso banget karena kala itu memang saya tinggal di kampung. Begini, kalau naik colt jangan diam saja, sapa kanan kiri.

Mungkin kalian ada yang tang pernah tahu apa itu colt ya? Angkutan umum yang bentuknya seperti mobil boks tetapi di bagian belakang ada pintunya. Biasanya di pintu justru dicari para penumpang yang suka berdiri sambil pegangan. Saya ingat betul, istilahnya nggandul.

Tempat duduknya berhadapan. Bangkunya panjang. Jadi jangan harap kalian akan terhalang oleh pendangan para penumpang. Dan zaman saya kecil nggak ada ponsel. Nah dalam kondisi seperti itu Ibu saya memberikan nasihat selalu ramah tadi.

Ujungnya ini yang saya pikir ada benarnya. “Siapa tahu diantara sekian penumpang itu kelak ada yang menjadi jodoh kalian,” ujar ibu saya.

Kedua, jangan terlalu membenci seseorang terlalu dalam. Apalagi jika orang tersebut sama sekali tak pernah mengusik kita. Untuk nasihat kedua ini ibu menekankan pada kebiasaan. Misalnya saya tak akan menyukai gadis dengan rambut ikal, kulitnya cokelat, suka menguncir rambutnya dan sebagainya.

Lalu ibu mencontohkan beberapa orang yang tiba-tiba menikah dengan orang dengan ciri-ciri yang sama sekali masuk kriterianya.

Ketiga, jodoh itu ya harus dicari. Namun zaman itu saran ibu saya harus melihat latar belakang seseorang yang kita taksir. Setidaknya ada kriteria yang sebenarnya semuanya berujung ke sebuah kebaikan.

Mungkin kalau sekarang mencarinya sudah terlalu kreatif, ya? Buka saja media sosial, pura-pura salah kirim komentar. Yang lebih aneh lagi, asal saja ketik nomor, saat nyambung dan dijawab bilangnya salah sambung. Salah sambung kok belakangan ganti kirim SMS ngajak kenalan hahahaha.

Sebenarnya saya punya contoh betapa kreatifnya anak-anak sekarang iseng menggunakan benda yang disebut smartphone. Sayang ponsel saya hilang di Jembatan Dompak, Tanjungpinang, beberapa hari lalu. Pencurinya tahu di jok motor saya ada ponsel.

Di ponsel saya yang hilang itu saya masih simpan seseorang kirim WA. Foto profilnya para gadis cantik. Pesannya singkat, menanyakan apakah saya anggota PKK sebuah desa? Saya pikir ini orang bertanya beneran saya balas, bukan.

Lho kok malah yang bersangkutan kembali kirim pesan. Dia sebut namanya Fulan (nama perempuan).

Mungkin akhirnya ia penasaran dan menelepon saya pakai voice call di WA. Begitu saya angkat saya tahu ia terkejut dengar suara saya laki-laki. Padahal kalau ia jujur, mengapa harus menuliskan namanya di pesan sebagai perempuan.

Nah, siapa yang suami atau istrinya sekarang justru seseorang yang dulu dibenci? Yang dulu pernah satu bangku di bis tetapi si dia sombongnya selangit? Hehe jadi teringat kala cari jodoh.

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com