Saya Dikatain Gila Bagi Air Bersih Gratis saat Kemarau

Air bersih di tong ini dibadikan gratis oleh Candra
Candra mengisi tong ini dengan air bersih dan membaginya untuk warga yang membutuhkan. Foto - nurali/gooday.id

GOODAY – Air bersih gratis, siapa yang tak mau? Bagi warga kebanyakan, mendapatkan bantuan aib bersih gratis adalah anugerah. Apalagi tinggal di daerah kepulauan seperti Provinsi Kepri.

Bukan hal aneh warga Batam atau Tanjungpinang membeli air. Air bersih bisa menjadi sesuatu yang sangat langka. Bila musim kemarau datang, sumur-sumur kering kerontang, air bersih menjadi komoditas yang berharga.

Dan jangan kaget begitu banyak “pengusaha” air bersih. Biasanya mereka menjualnya per drum yang ada di atas pikap yang mereka gunakan untuk mengantarkan air pesanan.

Tentu murah dengan mengeluarkan puluhan ribu sekali pengantaran air. Murah bagi yang punya uang. Teramat mahal, bahkan tak terbayang bagi warga yang hidupnya pas-pasan. Atau sebut saja kurang.

Saya tidak Beli Air Bersih

Adalah Candra Pusponegoro, warga Baloi Kolam, rumahnya belakang pemakaman umum Sei Panas, Batam, yang dikatain gila. Hanya? Gara-gara ia menyediakan sebuah tong besar di sudut rumahnya berisi air sumur untuk dibagikan gratis.

Tong air ini diisi Candra setiap saat. Ketika air di dalamnya menipis, ia buru-buru mengisinya kembali. Kebetulan di dalam rumahnya Allah memberikan sebuah sumur dengan air yang menurutnya cukup untuk dibagikan.

Dengan seorang istri dan dua anak kecilnya, Candra mengaku tak begitu banyak mengonsumsi air dari sumurnya per hari. Dan ia pun membaginya untuk siapa saja yang membutuhkannya.

“Saya tidak beli air berih, Allah memberikannya lewat sumur di rumah. Tak ada salahnya saya pun membaginya,” tutur mantan wartawan sebuah grup koran ternama di Indonesia ini kepada Gooday.id, belum lama ini.

Dan Candra kadang bekerja sama dengan istri dan dua anaknya mengisi tong air tersebut. Memang ada mesin pompa air yang bisa meringankan beban mengisi air. Persoalannya pompa air itu kadang ngadat. Maklum mesin pompa berusia uzur. Mungkin ada onderdilnya yang sudah kendur. Tarikannya tak lagi manjur dan air pun ogah mancur.

Jadi Langganan Warga Miskin

Selama berbuat baik membagikan air bersih, Candra merasakan bahagia saat ada warga yang mengambil air tersebut. Dan Candra tak membutuhkan pujian atau ucapan terima kasih.

Ia, dengan istrinya sudah meyakini bahwa kebaikan itu akan mendatangkan kenyamanan hidup. Sekali lagi, ia mengatakan hanya punya air untuk dibagi. Jika air itu berguna untuk orang lain, dan ia bisa melakukannya, nikmat.

“Alhamdulillah ada beberapa warga yang menjadi langganan. Mau dikatain gila atau yang lain, saya hanya bismillah. Insyaallah bermanfaat bagi orang lain sumur saya,” ujarnya, sambil tersenyum tipis.

Memudahkan siapa saja yang melewatinya tahu ada air bersih gratis, Candra menempelkan kertas di tong. Tulisannya sangat jelas, mudah dipahami. Tak perlu berkali-kali membacanya untuk paham maksudnya.

Sederhana saja, Air Bersih Gratis, Silakan Ambil. Begitulah tulisan di tong air itu. Dan sederhana juga bagi Candra untuk menjelaskan apa yang dilakukannya. Dan ia yakin semua bisa melakukannya.

“Manusia tak bisa hidup tanpa orang lain, sehebat apapun dia. Mari bersyukur saat dibantu dan bisa membantu. Begitu saja,” tuturnya. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com