Danu, Sarjana Teknik Lingkungan yang Memilih Jualan Air Galon

Danu menekuni usaha air galonnya
Foto - gooday.id
Sarjana Teknik Lingkungan Pilih Jualan Air Galon
Inilah Danu Wibiyono, Sarjana Teknik Lingkungan yang sukses menembus kebutuhan air minum warga dengan produknya, Sahabat RO. Foto-gooday.id

GOODAY – Sarjana Teknik Lingkungan, mendengar titel ini tak sedikit yang menyayangkan jika yang bersangkutan tidak bekerja di pemerintahan atau perusahaan besar. Apalagi jika hanya jualan air minum galon kemasan isi ulang.

Namun justru air galon yang dipilih Danu Wibiyono. Kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal di Yogyakarta pada tahun 2006 dan menyelesaikan kuliahnya beberapa bulan sebelum 2010, Danu kemudian merantau dari Bantul, Yogyakarta ke Tanjungpinang.

Sebenarnya sama yang ada dalam benak Danu kala itu, begitu lulus kuliah yang diincarnya adalah pegawai negeri sipil. Sebelum akhirnya mentap berjualan air galon, ia pun sempat bekerja sebagai honorer di sebuah dinas di Pemda yang ada di Provinsi Kepri.

Ternyata aktivitas sebagai pegawai di kantor pemerintah tak sesuai dengan harapannya. Ia memiliki keahlian di bidang yang dipelajarinya selama kuliah, namun yang dikerjakannya kadang jauh dari ilmu itu. Akhirnya ia memilih keluar.

Keluar dari Honorer Pemda dan Melirik Dunia Bisnis

Sarjana Teknik Lingkungan ini tak mau berlama-lama berdiam diri. Ia mulai merambah dunia usaha. Pertama-tama ialah memasarkan ikan laut yang dibawa dari daerah di mana ia pernah bekerja sebagai honorer Pemda. Ia bawa ke Tanjungpinang dan memasarkannya dari mulut ke mulut. Namun usaha ini tak bertahan lama.

Kemudian Danu mendatangkan kelambu kendaraan atau mantel pelindung kendaraan. Ada yang untuk sepeda motor dan mobil. Danu pun mencari lokasi di tepi jalan, memajang salah satu contoh barang jualannya. Produk ini didatangkannya dari Jawa.

Lagi-lagi hasilnya belum sesuai harapan. Akhirnya Danu banting stir menjadi penambal ban dan jual bensin kakilima. Kebetulan waktu itu ada yang menjual lokasi usaha tambal ban dan peralatannya, maka Danu pun mengambilnya.

Baca Juga:

Buket Balon Wisuda dan Ulang Tahun Kreasi Nurul yang Menggoda

Kades Ponggok Sukses Dongkrak PADes dari Rp80 Juta Menjadi Rp14,7 Miliar Setahun

Lakukan Saja yang Terbaik, Lantas Lupakan Kekhawatiran

Pengusaha Es Krim dengan Omzet Rp1,5 miliar Sebulan Ini Hanya Lulus Kelas 1 SD

Ide Usaha Sangat Sederhana, Anik Kantongi Keuntungan Tak Terduga

Bagi Danu, apapun akan ia lakukan asalkan halal. Sedikit hasil menjadi berkah baginya ketimbang hasil berlimpah namun ada yang salah di dalamnya. Dan bagi Danu, ia tak ingin mengeluh. Satu-satunya tempat curhat kala itu ialah Allah SWT.

Sarjana Teknik Lingkungan ini sama sekali tak pernah gengsi berpanas-panasan di lapangan. Gonta-ganti usaha. Menawarkan dagangan dari pintu ke pintu.

Sarjana Teknik Lingkungan Jatuh Cinta

Sekian waktu sudah dijalani Danu dengan beragam usaha. Tentu saja tak sedikit modalnya yang tak kembali. Toh perantau ini tak sedikit pun patah semangat. Apalagi ia termasuk orang yang suka membaca kisah-kisah inspiratif di smartphonenya. Kisah-kisah sukses itu memacu dirinya.

Suatu saat, ia menyadari sebenarnya usaha yang mungkin tepat untuknya yang berhubungan dengan air. Iya, usaha isi ulang air minum galon. Namun sejak berpikir ke bisnis ini dan kelak kemudian jatuh cinta, Danu tak ingin menjual air minum kemasan biasa.

“Kalau sekadar air minum biasa sudah banyak. Pasti sulit untuk bersaing,” ujar Sarjana Teknik Lingkungan ini saat ngobrol santai dengan gooday.id, tadi pagi.

Sebagai Sarjana Teknik Lingkungan, agaknya Danu memang menguasai dunia air. Nyatanya ia dengan fasih menjelaskan perbedaan air mineral, isi ulang dan RO (Reverse Osmosis).

Dengan harga 2 kali lipat dari air galon biasa, Sahabat RO terbukti mampu menjaring hati masyarakat. Foto-gooday.id

Air RO adalah jenis yang diincar Danu. Untuk mesinnya ia menghubungi ahlinya, kebetulan di Yogyakarta ia punya banyak teman. Kali ini Danu spekulasi namun bukan ngawur.

Karena air RO merupakan air yang menggunakan mesin reverse osmosis untuk mengolahnya. Melalui langkah – langkah mulai dari filtrasi, ultrafiltrasi mesin RO dan ultraviolet untuk hasil air reverse osmosis. Dengan proses ini, dari 10 liter air hanya akan menghasilkan 4 liter setelah melewati mesin reserve osmosis.

“Biasanya tds pada air RO adalah berkisar antara 0 ppm sampai 20 ppm,” terang Danu.

Dan Danu akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan air RO.

Menikmati Jatuh Bangun untuk Membangun

Danu, Sarjana Teknik Lingkungan yang nekad terjun ke dunia bisnis kini memiliki depot air RO, di depan Areca Waterpark, Tanjungpinang. Namun demikian untuk menjual airnya yang berkualitas bukan pekerjaan yang mudah.

Danu turun langsung ke rumah-rumah temannya. Tak lupa ia membawa peralatan untuki pengetesan kualitas air. ia hanya minta izin melakukan pengecekan. Tidak memaksa menggunakan air yang dijualnya. Ia juga mempersilakan orang lain membeli perelatan seperti yang dimilikinya, untuk menghindari fitnah alat yang dipakai dimanipulasi hasilnya.

Sebuah keputusan yang cukup berani, karena harga air galon biasa berkisar Rp4 ribuan, sementara air RO yang dijual Danu Rp10 ribuan per galon. Itu pun tak pakai pesan sekian gratis satu galon.

Hampir dua tahun Sarjana Teknik Lingkungan ini berjuang. Saatnya memetik hasil. Justru pelanggan barunya adalah mereka yang mendapatkan referensi dari temannya yang sudah terlebih dahulu mengonsumsi air RO. Ada keuntungannya bagi Danu, ia tak harus menjelaskan kepada calon konsumen baru.

“Kan calon pelanggan sudah dikasih tahu sama pelanggan sebelumnya, ya tinggal antar saja. Terima kasih untuk semua pelanggan yang turut memperkenalkan Sahabat RO ke saudara dan kerabatnya,” ucap Danu.

Danu mengusung nama Sahabat RO sebagai brand usahanya. Ia berpikir agar semua pelanggannya adalah sahabatnya. Dekat bukan hanya saat membeli air, melainkan di setiap saat tetap dekat.

Pelanggan Sahabat RO tak hanya di kawasan Batu 9, melainkan merata di seluruh wilayah Kota Tanjungpinang.

“Alhamdulillah, kerja keras itu tak sia-sia,” tuturnya. *** -Nurali Mahmudi-

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com