cita-cita setinggi langit 1
Menggapai cita-cita setinggi langit, hanya orang-orang pilihan yang mampu melakukannya. Foto - gooday

Raih Cita-cita Setinggi Langit, Cape Deh…

GOODAY – Cita-cita setinggi langit adalah salah satu kutipan dari Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno. Tokoh proklamator ini mengatakan: Gantungkan cita-citamu setinggi langit.

Bagi saat itu, Indonesia yang baru saja lahir ibarat bayi yang sedang merangkak. Dibutuhkan semangat luar biasa agar kaki-kaki kecil itu kuat menopang posisi berdiri. Sangat wajar jika presiden menyerukan kalimat bijaksana penuh motivasi tersebut.

Namun apa yang sebenarnya bisa dipahami tidak selamanya masuk di kepala anak-anak muda zaman now. Nyatanya pembicaraan tiga remaja saat memilih stiker di sebuah toko menggelitik untuk saya jadikan tulisan ringan.

cita cita setinggi langit 2
Gapailah langit yang tinggi itu sahabat. Foto – gooday

Awalnya ada gambar Ir Soekarno dalam bentuk siluet terpampang di salah satu dinding kios stiker di Jalan Sidorejo, Tanjungpinang, Kepri. Di sana juga dituliskan kalimat Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit.

Lalu satu dari ketiga remaja yang masih mengenakan segaram SMP itu nyeletuk,”Cita-cita setinggi langit…”

Sudah begitu saja, ekspresinya datar, mimik mukanya juga biasa saja. Mungkin ia tengah memikir apa kira-kira maknanya.

Namun keburu temannya menjawab,”Itu, kamu jangan main game terus. Punya cita-cita tak?”

“Punyalah bodoh! Tapi kan nggak perlu tinggi kalilah, langit!”

Hadeeh, saya yang mendengar apa yang mereka obrolkan menjadi geli rasanya. Seingat saya, peribahasa itu untuk menggambarkan betapa sulitnya mengejar cita-cita. Namun harus tetap dikejar untuk masa depan.

Sesaat ketiganya sibuk memilih stiker. Namun rupanya seorang pelajar yang tadi hanya diam melanjutkan percakapan ringan tadi. Ia mengatakan, jika tak mengejar cita-cita setinggi langit, tak akan maju.

“Maksau kau apa?” tanya remaja pertama yang mengawali percakapan soal cita-cita.

“Itu yang pada terbang ke bulan. Mungkin mereka cita-citanya dulu setinggi langit.”

Dan perdebatan kusir pun berlanjut. Ramai. Saling sindir.

Saya jadi mikir, nggak dalam-dalam amat, sih. Dikasih ngejar cita-cita saja susahnya seperti itu. Zaman saya dahulu mau sekolah senangnya luar biasa. Bertemu banyak teman, dan bermain bersama kala istirahat.

Atau jangan-jangan anak-anak zaman now nggak mau sudah-susah mengejar cita-citanya. Istilahnya mengikuti arus, kemana air membawanya ia akan ikut.

Seorang teman, pengusaha ayam goreng di Tanjungpinang agaknya bisa mengajari anak-anak muda yang maunya serba instan.

cita cita setinggi langit 1
Langit yang indah, bagus untuk menyemangati diri. Foto – gooday

Kepada Gooday, ia mengatakan cita-cita setinggi langit itu ada bagusnya. Sebab bisa jadi seseorang yang menyimpannya memiliki cita-cita yang jauh berbeda dengan kebanyakan temannya.

Dan ada satu kalimat yang membuat saya agaknya harus berbagi di sini. Teman saya yang kini sukses mengangkat derajat keluarga besarnya ini mengatakan soal kegagalan.

“Jika gagal meraihnya, setidaknya tidak gagal pada sesuatu yang biasa-biasa. Melainkan gagal karena mencoba meraih cita-cita yang memang luar biasa,” kata teman saya.

Hmmm sangat dalam. Lalu saya alihkan ingatan ke tiga remaja yang berdebat soal tingginya langit. Baru dengar setinggi langit, sudah cape deh…***

About: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com