Memboyong Kreativitas Malioboro ke Tanjungpinang

pedestrian malioboro malam hari
Merindukan kreativitas yang ada di Malioboro bisa ditiru di Tanjungpinang. Foto - instagram.com/malioboro_insta

Yogyakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang bagi saya ngangeni. Soal budayanya jangan ditanyakan, kota ini mampu melestarikannya. Namun terus terang saya tertarik dengan kreativitas warganya.

Bila orang dari luar kota datang ke Yogyakarta, Malioboro akan selalu menjadi tempat yang paling ingin dikunjungi. Bahkan oleh mereka yang datang menjalankan tugas kantor atau kedinasan. Harus pandai berkelit di waktu yang sempit untuk setidaknya selfie di tiang nama jalan Malioboro.

Beberapa kali saya ke sini. Namun ada semacam janji yang belum terlunasi. Padahal saya meyakini janji itu utang. Terakhir saat saya mengantarkan anak saya yang sekolah di SMKN 2 Kasihan, Bantul, hampir dua tahun silam.

oyo hotel hokkie batam
OYO Hotel Hokkie Punggur Batam. Foto – nurali mahmudi/gooday

Itulah terakhir saya menikmatinya sebagai liburan seru. Kala itu kami hanya mengandalkan Google Maps untuk mencari alamat. Pinjam motor teman semasa kuliah di Purwokerto yang tinggal di Yogyakarta.

Anak saya memegang ponsel dengan aplikasi Google Maps menyala, saya yang memegang kemudi. Dari urusan mencari peralatan kamar kos hingga alat musik. Karena sekolahnya memang sekolah musik. Dialah pemandu saya, yang dengan setia teriak: ada belokan ke kanan Yah, belok kiri Yah, depan ada traffic light Yah dan penunjuk lain sesuai yang tertera di layar ponsel.

Beberapa hari terasa kurang. Yang saya bayangkan kala itu, ah seandainya saya bawa cukup uang untuk menginap di hotel. Pasti akan saya tulis orang-orag kreatif di Malioboro untuk menularkannya ke anak-anak muda di kotaku tinggal, Tanjungpinang. Namun saya harus memikirkan anak saya yang baru mendapatkan kamar kos, harus menyiapkan isinya sebelum saya balik ke Tanjungpinang.

Sekian waktu berlalu. Lalu saya dipertemukan dengan OYO Hotels Indonesia saat mengantar anak kembali ke Yogyakarta, usai liburan sekolah di Tanjungpinang. Saya ingat saat itu tanggal 28 Juni 2019, kami naik kapal dari Tanjungpinang ke Batam sore hari. Percaya diri karena sudah booking sebuah hotel di Batam.

Namanya Hokkie Hotel Punggur Batam. Saya bilang ke anak saya yang barusan menghabiskan liburan semesterannya di Tanjungpinang, yang penting bisa untuk istirahat.

Dari Pelabuhan Punggur, kami naik taksi ke Hotel Hokkie. Hanya butuh 15 menit perjalanan. Kami memilih hotel ini selain murah juga paling dekat dengan Bandara Hang Nadim. Keesokan paginya atau 29 Juni 2019, saya harus mengantar anak saya ke bandara untuk balik ke Yogyakarta.

Hotel Hokkie ada di lokasi pasar. Kesan saya biasa saja, karena harganya juga murah. Namun ketika sudah masuk kamar, jujur saja apa yang saya dapatkan jauh lebih baik dari harganya.

Bahkan saya memberikan review di Google Maps tentang Hotel Hokkie tersebut. Meski baru dibalas review saya oleh Tim OYO, namun saya suka. Karena dari sekian banyak tempat yang saya review, hanya beberapa yang mendapatkan interaksi.

Pengalaman menginap di OYO 533 Hokkie Hotel Punggur Batam membuat saya lebih percaya diri jika ke Yogyakarta lain waktu. OYO Hotels Indonesia memberikan banyak pilihan hotel murah dengan fasilitas yang cukup bagus untuk traveller dan blogger seperti saya ini.

oyo hotel hokkie batam review
Mengubah cara pandang saya tentang hotel di Indonesia. Foto – nurali mahmudi/gooday

Saya akan mencari pilihan hotel dekat Malioboro, biar lebih gampang bagi saya menuliskan orang-orang kreatif di Malioboro. Kreativitas itu tak akan saya batasi.

Bisa saja pedagang kakilima yang kreatif menciptakan jajanan, kreativitas pengamen jalanan, kreativitas desainer sablon kaos dan sebagainya. Selanjutnya saya akan mencoba mengulas kisah-kisah sukses mereka. Konten yang sangat sesuai untuk blog ini.

Setidaknya saya mencoba menularkan virus sukses dari orang-orang yang akan saya wawancarai di Malioboro. Bagi anak-anak muda di kota kecil seperti Tanjungpinang, kisah sukses seseorang masih menjadi referensi. Berharap anak-anak muda di Ibu Kota Provinsi Kepri ini tak hanya menunggu lowongan CPNS.

Bayangan saya, bakal muncul komunitas anak-anak muda kreatif yang menggali bakat dan kemampuan mereka lalu menuangkannya ke dalam karya yang bisa dijual. Karena hal semacam itu belum ada di sini.

Dan dengan hadirnya hotel murah di Yogyakarta, saya bisa lebih ngirit urusan menginap. OYO Hotels Indonesia telah memberikan pemahaman saya tentang hotel secara berbeda. Bahkan saya sekarang pun bisa mengintip hotel-hotel apa saja yang ada dekat Malioboro serta harganya. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com