Mas, Bisa Bantu Saya Tarik Uang di ATM, Nggak?

Di Kantor Pegadaian inilah saya melihat Satpam yang menjaga dengan hatinya. Foto - gooday.id

GOODAY – Sabtu, 7 September 2019 pagi, kira-kira pukul 09.00 WIB, saya kebetulan berhenti di Kantor Pegadaian yang ada di Tanjungpinang, Kepri. Saya mengantar seseorang, dan saya memilih menunggu di luar biar dapat angin segar.

Saat menunggu biasanya orang-orang buka ponsel, lalu ketak ketik ketuk entah apa yang dilakukan. Entah mengapa kali ini saya kok ya malas mengeluarkan ponsel. Padahal daya batereinya masih banyak, adalah kalau 90 persen.

Saya parkir motor depan meja satpam. Kok begitu percaya ya saya kalau itu memang meja satpam. Soalnya ada tulisannya besar, begini hurufnya: security. Pakai huruf kapital semua. Saya kasih saja senyum, eh dibalas senyuman.

Begitulah saya ngetes seseorang yang baru kenal selama ini. Nggak ngasih permen wangi, melainkan cukup senyum. Ingat, dalam aghama saya, Islam, senyum itu ibadah lho.

Kami ngobrol. Saya tanya kok ada banyak papan bunga di seberang jalan. Dia jawab semalam baru ada pembukaan tempat makan. Saya longokkan kepala ke sebelah Kantor Pegadaian, memang ada kafe baru.

Tak berapa lama datang seorang tukang koran yang juga menenteng belasan bungkus plastik kecil kerupuk usus ayam.

Toilet depan Kantor

Kok sub judulnya langsung toilet, Mas? Hehe, sengaja saya buat seperti itu. Sebenarnya kalimat setelah ini lanjutan dari tukang koran di atas.

Si tukang koran hanya menunjuk toilet yang ada di sebelah saya parkir motor. Dengan senyumnya, Mas Satpam tadi memersilahkan tukang koran untuk menggunakannya. Tukang koran menitipkan koran dan kerupuk usus di atas meja Satpam.

“Sudah biasa mas, hampir tiap hari jualan koran ke sini,” Satpam tadi menjelaskan. Seolah ia tahu apa yang saya pikirkan.

Habis tukang koran, datang tukang parkir yang juga ingin melepas hajat di toilet. Lagi-lagi Satpam memersilahkannya untuk masuk.

“Memang untuk umum, Mas?” tanya saya kemudian.

“Nggak, sih, Mas. Kalau mereka kan hampir setiap hari di sini, selain itu hanya dipakai intern. Khususnya nasabah kantor ini,” jelasnya.

Bantu Tarik Uang

Tak lama berselang, datang seorang perempuan yang usianya sudah di atas 50 tahun menggandeng seorang remaja berseragam. Keduanya mendekat, dan saya melihat Satpam tadi menjabat tangan perempuan berkerudung dengan hormat. Lalu menyalami remaja di sebelahnya.

Rupanya perempuan ini baru masuk ke ATM tepi jalan. Ia bercerita biasanya ada tulisan jumlah uang yang akan ditarik, namun hari itu ia mengaku bingung.

Ia melihat tak ada lagi tampilan jumlah uang yang bisa dipilih sehingga mesin langsung mengeluarkannya.

“Ibu mau ambil uang?” tanya Satpam.

“Iya, tetapi kok tak ada jumlah-jumlah uangnya. Atau mesinnya baru, ya?” jawab perempuan tadi, “Satpamnya juga nggak ada.”

“Ibu mau ambil berapa?”

Lalu Ibu-ibu tadi pun menyebutkan jumlahnya. Katanya ia baru saja mendapatkan kiriman uang dari kerabatnya.

‘Ibu ingat PIN-nya?” tanya Satpam.

Setelah dijawab dengan anggukan, Si Ibu bertanya, “Mas, bisa bantu saya tarik uang di ATM, nggak?”.

Tak perlu mengulangi pertanyaannya, Satpam tadi berjalan mengiringi ibu dan remaja tadi ke bank sebelah Pegadaian.

“Mas, mohon maaf saya tinggal dahulu, ya? Nggak lama, kok,” katanya kepada saya sebelum membantu menarik uang dari mesin ATM.

Saat itulah saya merasa harus mengeluarkan ponsel dari dalam tas, dan membidik meja kerja Mas Satpam yang baik hati tersebut.

Hikmahnya…

Sahabat Gooders sejagat raya, bantuan sekecil apapun bisa sangat berarti bagi orang lain. Namun kadang permintaan tolong dari orang lain lebih sering dianggap bukan apa-apa, cuekin saja. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com