Martabak Manis Legendaris dengan Tool Jadul

martabak manis
Bisa Anda temukan di Batu 9, Tanjungpinang, Kepri. Foto - gooday

GOODAY – Martabak manis menjadi camilan khas yang bisa dijumpai di hampir kota di Indonesia. Apalagi kalau sudah mengantongi label Bangka, walah, bisa antre. Kalau memang rasanya luar biasa.

Tulisan saya kali ini tentang martabak manis Bangka. Saya tak harus ke Provinsi Bangka Belitung untuk menemukan pedagangnya. Jika kebetulan Gooders ke Kota Tanjungpinang, coba deh ke Jalan DI Panjaitan atau dikenal dengan sebutan Batu 9.

Di depan sebuah ruko, dekat tikungan balik arah dekat Swalayan Pinang Lestari, akan Anda jumpai papan nama sederhana. Martabak Asli Bangka Spesial. Papannya berwarna putih, tulisannya merah. Nasionalis banget kesannya.

martabak manis keju
Hmmm baunya keluar dari layar komputer dan ponsel android hehehe. Foto – gooday

Pilihannya sih biasa. Ada martabak manis keju, pandan atau coklat keju. Namun proses membuatnya yang menurut saya tidak biasa. Bukannya sepi, martabak ini selalu ramai orang membeli. Jika mau cepat bisa saja menggunakan teknologi yang dipaksakan.

Misalnya kipas tangan diganti kipas angin. Tak perlu tangan bergerak-gerak, tinggal tekan tombol lalu wus wus suw. Martabak selesai, pelanggan bayar, untung deh.

Saat saya datang untuk ke sekian kalinya, karena memang kadang pingin banget makan martabak manis, hanya ada perempuan muda dan ayahnya. Biasanya perempuan muda ini, sebut saja Ani, dibantu suaminya. Jangan khawatir, ketiganya sama ahlinya untuk urusan martabak manis Bangka.

Menurut Ani yang melayani pertanyaan saya sambil mengerjakan pesanan, sudah bertahun-tahun lokasi tempatnya jualan dipertahankan. Termasuk teknik kuno nan jadul yang justru membuat keberuntungan.

“Tak pernah terpikir untuk menggunakan kipas angin. Tungku model inilah yang selalu kami pakai membuat martabak di kampung,” ujarnya.

Dengan tungku api yang rendah, di bawah permukaan meja, semua pembeli bisa melihat langsung bagaimana pesanan mereka dikerjakan. Tungkunya sudah kuno, umurnya saya tebak sudah lebih dari 10 tahun.

Bahan bakarnya adalah arang, jadi setiap sekian menit dimasukkan arang baru. Hal ini dilakukan agar panas api tetap stabil. Sementara tangan kiri Ani atau suaminya atau ayahnya mengipaskan kipas tangan.

Dari teknologi, Ani pasti tak akan menampik jika usahanya masih menggunakan peralatan kuno. Sementara dunia sudah menyiapkan revolusi 4.0 yang kadang menakutkan jika dibahas secara sangat mendetil.

Toh nyatanya dengan teknologi unik, arang kayu, tungku buatan zaman baheula, kipas tangan justru membuat martabak manisnya legendaris.

So pesan saya jangan beli malam kali, di atas pukul 22.00 WIB. Akan lebih banyak peluang pulang kembali tanpa hasil. karena Ani dan keluarganya memang akan menutup lapaknya kala bahan habis.

Konon Ini Awalnya Martabak Manis

martabak manis coklat keju
Jika listrik padam, martabak bisa tetap dibuat karena kipasnya bertenaga tangan. Foto – gooday

Saya mencoba mencari beberapa literatur online, dan menemukan martabak manis memiliki nama asli Hok Lo Pan. Bisa dikatakan memang makanan khas Bangka Belitung. Dan Hok Lo Pan atau martabak ini diciptakan oleh orang-orang Hakka ( Khek ) Bangka.

Tak heran jika pera pedagang martabak manis cenderung akan menggunakan embel-embel Bangka. Nama aslinya di Bangka adalah Hok Lo Pan yang arti harfiahnya adalah Kue Orang Hok Lo.

Jika membaca resepnya, cara membuatnya terlihat tidak terlalu sulit. hanya menggunakan tepung terigu, diolesi dengan mentega, ditaburi coklat butir campur kacang tanah dan wijen, atau keju parut campur wijen, kemudian diberikan susu kental manis. Lalu dibakar di atas cetakan hingga menguning kecoklatan.

Iya, terkesan mudah bagi ahlinya. Kalau bukan, saran saya serahkan saja ke ahlinya.

Yang Tersembunyi

martabak manis bangka
Yang bermodalkan peralatan kuno belum tentu hasilnya tak menggembirakan. Foto – gooday

Dari martabak legendaris Tanjungpinang ini, agaknya ada yang bisa kita jadikan pelajaran sahabat Gooders. Untuk menciptakan sebuah karya kadang masih dibutuhkan sesuatu yang apa adanya. Tidak perlu dipaksakan.

Ibarat sebuah aplikasi, Ani tuh masih pakai tool jadul. Namun tujuannya bukanlah toolnya, melainkan hasil akhir setelah diolah dengan tool tempo doeloe ini.

Selamat sore sahabat. Maaf, saya harus menikmati salah satu camilan kesukaan, martabak manis. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com