Mampir ke Bintan? Coba Rasakan Blongkeng…

Blongkeng di Kabupaten Bintan (2)
Blongkeng, jangan pikirkan namanya, bayangkan saja rasanya. Bisa dinikmati di Kedai Kopi Hindi, Gesek. Foto - nurali

GOODAY – Tulisan ini merupakan versi kedua dari yang saya tulis di suarasiber.com beberapa hari lalu. Yang ini versi agak slengean, siapa tahu bermanfaat bagi Gooders yang doyan traveling, blusukan ke berbagai daerah untuk mencicipi makanan enaknya.

Sebenarnya saya sih nggak sengaja menemukan blongkeng. Seorang teman suatu hari mengajak saya untuk mencari makan siang yang enak. Kalau bicara enak, dan kebetulan perut kosong, apa saja bisa menjadi enak.

Kadang nasi pulen hangat, setumpuk tempe goreng tanpa tepung, sambal bawang mentah rasanya lebih nikmat karena disantap saat lapar. Ketimbang menghadapi beragam masakan laut di atas meja namun perut sebenarnya sudah kenyang. Datang karena nggak enak diundang teman yang ngerayain ulang tahun.

Blongkeng di Kabupaten Bintan (3)
Blongkeng dan bakwan daging hiu, aswas ketagihan. Foto – nurali

Kami awalnya di Batu 5, Tanjungpinang, ketika teman saya punya ide untuk makan siang ke Kedai Kopi Hindi, Jalan Tanjunguban Batu 21, Gesek, Kabupaten Bintan. Oh, ya, sebagai catatan. Jika teman-teman tidak membawa kendaraan sendiri, agak susah menemukan kendaraan umum ke rumah makan ini.

Solusinya bisa jadi taksi atau ojek. Saya juga kurang yakin jika moda transportasi online, entah roda dua atau empat, entah untuk empat atau enam penumpang mau membawa teman-teman semua. Kayaknya sih rutenya belum sampai sini.

Usai zuhur, saya bergegas duduk di samping teman saya yang menyetir mobil dari Tanjungpinang ke Gesek. Gak sampai 30 menut, dengan kecepatan yang nggak ngebut-ngebut banget, sampailah kami ke Kedai Kopi Hindi.

Lokasinya bisa dilihat di Google Maps di bawah ini, gunakan saja GPS biar nggak nyasar-nyasar.

Nasi dagangnya, atau nasi lemaknya nggak diragukan lagi. Josss. Sotong gorengnya juga. Atau bakwan daging hiu, cukup melegenda di sini. Pas melihat teman saya menunjuk sesuatu berwarna hijau, saya pun bilang ke pramusaji minta benda yang sama.

Bedanya, teman saya menambahkan beberapa potong sotong, saya memilih bakwan daging hiunya.

Sesaat sebelum memulai menyantap, seorang pramusaji lewat dan saya tanya, apa nama benda berwarna hijau yang dimasak dan ada di atas piring saya.

Dijawab namanya blongkeng. Nama yang aneh untuk makanan. Saya hanya mengernyitkan alis sedikit. Saya lirik teman saya dengan lahapnya menyantap blongkeng yang dimasak. Waduh.

Saya ambil sepotong, saya masukkan ke mulut pelan-pelan. Saya lirik mbak-mbak pramusaji yang tadi saya nanya serius memperhatikan saya. Ia tersenyum-senyum.

Bumbu blongkengnya enak, nggak pedas juga manis. Pas di lidah. Kuahnya bisa buat dicampur nasi seandainya blongkengnya tak masuk ke perut. Pelan-pelan blongkeng yang tak lain masih keluarga siput saya gigit dengan gigi.

Kenyal, seperti gonggong. Saya kuatkan tekanan gigi dan potongan blongkeng pun jatuh ke lidah, saya kunyah lagi dan lagi hmmm nikmatnya. Ah blongkeng, benar juga kalau ada yang mengatakan jangan lihat seseorang dari namanya.

Blongkeng, kesannya itu gimana. Begitulah awalnya otak saya bekerja saat mengetahui namanya.

Menurut Hasan atau Ahuat, Blongkeng yang dijual di warung makannya hasil tangkapan nelayan lokal di Bintan. Namun entah mengapa, saya coba browsing di internet tentang blongkeng agaknya nggak ada yang pernah menulisnya.

Kalaupun ada, kata Blongkeng justru mengarah ke sebuah Desa di Magelang. Di sini ada Sungai Bloengkeng yang disulap warga sekitar menjadi tempat edukasi yang kreatif.

Kalau di luar Bintan, tepatnya di Malaysia justru ada pemilik blog yang menuliskan blongkeng sebagai salah satu masakan unggulan di kampungnya, Tedong Pantai. Silakan klik tautan ini untuk membaca artikelnya yang dilengkapi foto blongkeng.

Blongkeng di Kabupaten Bintan (1)
Harus nelepon dahulu kalau mau datang, takutnya nggak kebagian atau…. lagi nggak musim. Foto – nurali

Perkenalkan, blongkeng dari Bintan. Artikel ini saya buat beberapa hari setelah kunjungan saya ke Kedai Kopi Hindi, karena saya bertanya-tanya terlebih dahulu. Saya tanya teman-teman ada yang tahu blongkeng nggak. Kebanyakan nggak tahu, kalau ada yang tahu rujukannya sama: Kedai Kopi Hindi di Gesek.

Jika kita menyebut kerang, penikmat kuliner di Pulau Bintan pasti tak asing dengan nama gonggong. Menurut saya sih rasanya tak jauh beda. Cuma cara menikmatinya saja yang berbeda.

Jika gonggong harus menggunakan tusuk dari bambu, ujungnya dimasukkan ke celah pintu kerang, ketika merasa mengenai sesuatu tusuk saja lalu keluarkan hati-hati. Maka daging gonggong akan keluar dari cangkangnya. Celupkan di sambal cairnya, lalu masukkan ke mulut. Rasanya hmmm nikmaaat.

Sementara blongkeng tinggal ambil pakai sendok lalu nikmati. Rasanya? Nikmaaat.

So, selamat datang di Kabupaten Bintan, kunjungi Gesek, mampir ke Kedai Kopi Hindi, pesan nasi dan blongkeng sebagai pelengkapnya.

Tetapi ingat, kata Hasan blongkeng itu musiman. Jadi sebelum mampir ke sini ada baiknya nelepon dirinya. Mumpung saya lagi baik hati, ini nomor ponsel Hasan untuk konfirmasi ada nggak blongkeng itu.

Hasan alias Ahuat, mobile: +62 81372451345 ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com