Lakukan Saja yang Terbaik, Lantas Lupakan Kekhawatiran

Lakukan saja yang terbaik lalu lupakan kekhawatiran
Jika Anda punya janji menunggu kawan, sudah Anda lakukan tetapi kawan tak datang, berarti Anda tak perlu khawatir berlebihan. Foto-gooday.id

Lakukan saja yang terbaik, sepertinya kalimat yang enteng. Namun ketika di belakangnya ditambah lalu lupakan kekhawatiran itu, agaknya terasa gimana gitu. Atau jika digabungkan justru membuat Anda khawatir sebelum membaca artikel ini lebih tuntas?

Coba gooders baca dengan pelan-pelan kalimat di bawah ini:

“Why worry? If you’ve done the very best you can, then worrying won’t make it any better.”

“Kenapa khawatir? Jika Anda telah melakukan yang terbaik yang Anda bisa, maka khawatir tidak akan membuatnya menjadi lebih baik.” -Walt Disney-

Gooders, kita adalah manusia. Saya, Anda dan kita semua. Manusia itu memiliki sesuatu yang membedakannya dengan yang bukan manusia. Orang ada yang menyebutnya akal, pikiran, otak, imajinasi atau apapun itu yang pada hahikatnya memang membuat manusia berbeda. Manusia bisa menciptakan karya seni, bertahan hidup dengan cara unik adalah contoh kehebatan manusia.

Karena kelebihan itulah manusia bisa menangis kalau sedih, meski ada juga yang menangis karena bahagia. Manusia bisa tertawa karena ada yang lucu, bahagia. Tetapi ada lho orang yang kalau menangis itu suaranya agak mirip orang tertawa. Jadi beda tipis, tergantung bagaimana kita mencermatinya secara sungguh-sungguh.

Jangan Biasakan Khawatir Berlebihan

Manusia bisa marah, stres. Manusia juga bisa khawatir. Sejuta alasan masih kurang banyak untuk menuliskan alasan seseorang merasa khawatir. Menunggu pacar khawatir tak datang, padahal yang ditunggu asyik sama yang lain. Menunggu hujan tak reda-reda khawatir bakal ketinggalan acara penting di kantor, padahal di saat yang sama yang akan memimpin rapat juga menunggu hujan reda di rumahnya.

Kata Pak Walt Disney di atas, yang saya lansir dari finansialku.com, sebenarnya kita itu tak usah lagi khawatir apabilan yakin telah melakukan yang terbaik. Justru khawatir, apalagi khawatir berlebihan justru akan membuat otak kita lari ke sana-ke sini mencari ribuan jawaban atas kekhawatiran tersebut.

Khawatir adalah kondisi pada saat sesuatu belum terjadi, atau sudah terjadi namun kita merasa berparan di dalamnya sehingga dihantui rasa bersalah, khawatir. Bagaimana kalau kedok kita terbongkar. Wajah yang cantik, tampan, elok, halus nyatanya ada drakula di dalam otaknya.

Kuncinya Lakukan Saja yang Terbaik

Gooders, lakukanlah yang terbaik untuk menemukan alasan tak lagi khawatir. Terbaik sejatinya bisa diterapkan di segala kondisi. Baik itu bisa dirasakan. Buruk atau jelek juga bisa dirasakan. Tentu yang saya katakan di sini untuk ukuran manusia waras, normal. Kalau abnormal ya jangan dimasukkan dalam kategori orang yang bisa membedakan baik buruk. Kecuali pas sedang normal, ya silakan.

Perbuatan baik dan buruk juga akan lebih mudah dirasakan. Cukup pakai kepala, gunakan untuk berpikir. Lalu tanyakan ke hati. Sejahat apapun manusia ada sisi kebaikan di dalamnya. Pun sebaliknya.

Baca Juga:

Pengusaha Es Krim dengan Omzet Rp1,5 Miliar Sebulan Ini Hanya Lulus Kelas 1 SD

Ide Usaha Sangat Sederhana, Anik Kantongi Keuntungan Tak Terduga

Kisah Sukses Susi Pudjiastuti, Lulusan SMP Bermodal Rp750 Ribu

Murid Dibully Guru Musik Tiada Henti, Dibuktikan dengan Prestasi

Kepala Desa Kreatif Ini Sukses Gelar Bazar Tanpa Gerogoti Duit Pemda

Intinya lakukan saja yang terbaik. Apapun kegiatan itu, pekerjaan itu, situasi itu. Terbaik menurut Anda ya bukan lantas yang buruk Anda yakini sebagai kebaikan. Ukur dahulu secara objektif, jangan subjektif. Kalau perlu tanya teman-teman dan kenalan serta keluarga, kira-kira jika Anda ingin melakukan sesuatu bagaimana menurut mereka? Ambil saja suara terbanyak, Insyaallah bisa mewakili.

Lalu kerjakan saja. Melakukan yang terbaik berdasarkan pemikiran yang baik tak menutup kemungkinan diganjar dengan hasil yang baik juga oleh Tuhan.

Selamat beraktivias gooders di seluruh dunia, semoga tersemangati. -Nurali Mahmudi-

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com