Kuli Bangunan Miskin Ini Terapkan Manajemen Sederhana, Kini Ia Nikmati Kemapanan

Boim. Foto - gooday.id

GOODAY – Hanya ingin ditulis dengan nama Boim, perantau asal sebuah kota di Jawa Timur ini tak ingin kisahnya diangkat dalam bentuk tulisan. Namun setelah membaca beberapa artikel di gooday.id, akhirnya ia bersedia dengan syarat disamarkan namanya.

Lahir dari keluarga miskin pada tahun 1984, Boim sudah merasakan perihnya ditinggal kedua orang tuanya bercerai pada usia 2,5 tahun. Ibunya kemudian merantau sedangkan ayahnya pindah ke kota lain. Boim kecil ikut dengan neneknya.

Selepas SMP, Boim berangkat ke Tanjungpinang. Hanya berbekal ijzah SMP dan tanpa keahilan. Sederhana saja tujuan perantau belia ini, menjadi buruh bangunan. Dan memang akhirnya ia bertungkus-lumus dalam dunia buruh. Kebetulan waktu itu Tanjungpinang tengah menjadi kota berkembang, sehingga membutuhkan banyak tenaga kasar seperti buruh atau kuli bangunan.

Boim tidak malu, karena wakt itu ia merasa hanya buruh bangunan pekerjaan yang memungkinkan untuk memberinya rezeki. Ia pun melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Diakuinya, menjadi buruh bangunan membutuhkan tenaga yang cukup.

Namun ia menjalaninya tanpa mengeluh. Ia sadar, tak ada yang menyuruhnya merantau. Nasib orang tak ada yang tahu. Hasil dari upah buruhnya disimpan, setelah digunakan untuk kebutuhan hidupnya.

Hampir 5 tahun lamanya Boim bergumul dengan pasir, semen, batu bata dan material lain. Banyak ilmu yang sudah diperolehnya dari mandor-mandornya atau teman-teman sekerjanya.

Dengan modal uang simpanan yang tidak seberapa, suatu hari Boim memutuskan untuk mencoba mandiri.

“Sempat bingung, kalau saya belajar menangani pekerjaan sendiri bisa atau tidak, ya,” tuturnya di Batu 5, Tanjungpinang, Rabu, 27 Februari 2019.

Beragam pertanyaan menggelayuti pikirannya. Masih dengan status lajang, belum menikah, sebenarnya dari hasil buruh bangunan ia bisa mencukupi dirinya sendiri. Lantas pada suatu titik ia akhirnya memilih harus yakin.

“Kalau tidak diawali, kapan lagi. Ketakutan pasti ada, tetapi saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan jalan terbaik bagi saya,” imbuh Boim.

Lantas ia menawarkan jasa kepada warga yang membutuhkan membangun atau merenovasi rumah. tentu saja saat itu banyak hal ditanyakan kepadanya. Intinya keraguan pada kemampuan Boim. Pelan-pelan warga akhirnya mengetahui kualitas pekerjaan Boim.

Baca Juga:

Obrolan Menggelikan Pakde Nardi dan Pakde Trimo di Belakang Kios

Gaji Pas-pasan Tak Menghalangi Polisi Muda Ini Peduli Sesama

Pengorbanan Kedua Orang Ini Berbuah Juara I Kontes Otomotif Kelas Decal Sticker MRSF 2019

Dulu Tukang Sapu, Kini Pengusaha Beromzet Ratusan Juta Sebulan

Tidak Jujur Itu Sulit untuk Diperbaiki

Untuk mencari partnet kerja, Boim mengaku tidak susah. banyak teman-teman sekerjanya yang bersedia membantunya. Salah satu yang dipegang Boim ialah tak ingin berlama-lama menahan gaji untuk tukangnya.

“Sebab saya beberapa kali mengalami, ditipu teman yang mengajak kerja sama. Dibayar telat dan sebagainya,” tutur Boim. Bahkan untuk membayar cicilan motor kadang telat karena gajinya juga telat.

Baru-baru ini, Boim membeli sebuah pikap. Sebenarnya ada yang menasihatinya untuk membangun rumah terlebih dahulu. Namun Boim punya pemikiran lain.

Jika membeli pikap, saat tak ada proyek ia bisa menerima jasa pengangkutan barang. Dan jika ada proyek, seperti renovasi rumah misalnya, pemilik rumah tak perlu lagi menyewa pikap untuk memindahkan sampah material bangunan yang diruntuhkan.

Pola pikir Boim terbukti benar. Kini ia bisa mengatur ritme sumber mata pencahariannya. Jika merenovasi rumah, ia mendapatkan uang dari upah merenovasi dan penyewaan pikapnya. Kalau proyek kosong, ia terima tawaran warga yang ingin angkut-angkut sesuatu.

Sekarang Boim sudah berkeluarga, seorang istri dan dua anak menjadi tanggungannya. Justru keluarga menjadi pembakar semangatnya.

“Hidup itu sederhana, jujur dan laksanakan kewajiban,” tuturnya.

Saat difoto, Boim pun memilih berpose membelakangi kamera. “Kalau kira-kira kisah hidup saya bisa menyemangati orang silakan tulis, Mas. tetapi kalau tidak, tidak usah,” pesannya sebelum beranjak.

Dengan kehidupannya sekarang, Boim mengganggapnya sebagai kemapanan. Mungkin bagi orang lain kehidupannya belum seberapa, atau apa yang dihasilkan bukan apa-apa. Namun baginya, sudah dinilai sebagai anugerah Tuhan yang di luar perkiraannya. dengan bersyukur Boim merasa makmur. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com