Kreatif dan Produktif, Lalu Terbanglah

aldi pengrajin limbah kaca
Aldi, perajin limbah kaca asal Tanjungpinang bermodal kreatif dan produktif, kini ia menikmati hasilnya. Foto - dok aldi

Hanya mereka yang kreatif bisa bertahan di tengah bergejolaknya dunia perekonomian. Hanya mereka yang produktif mampu melahirkan karya dalam jumlah banyak. Dan hanya mereka yang kreatif serta produktif akan aman terbang dengan sayap sendiri di masa depan.

Pidato kenegaraan yang disampaikan Presiden Joko Widodo menyambut HUT ke-74 RI Agustus lalu tentu masih jelas di telinga kita. Indonesia tak gentar menghadapi persaingan global. Sumber daya manusia (SDM) yang unggul memiliki kreativitas, inovasi dan kecepatan untuk bersaing secara global sehingga mampu melompati bangsa-bangsa lain di dunia.

Seyogyanya cambuk yang disampaikan Presiden itu disambut kaum milenial kita. Mendukung hal tersebut, salah satu lembaga yakni Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) rajin mengadakan pelatihan kewirausahaan.

Kalau hanya pelatihan, sudah tak terhitung. Usaha kreatif mendapatkan porsi yang gemuk di Kadin, dengan melatih para pelakunya. Seperti pernah dilakukan Kadin Pangandaran, Jawa Barat, 2017 silam. Bersama Pemda setempat, diselenggarakan pelatihan pengembangan produk atau invasi produk untuk menghadapi persaingan pasar.

Di Mandailing Natal (Madina, lembaga ini juga mengundang pelaku entrepreneurship di usia produktif baru-baru ini. Bahkan disiapkan sebuah kampung dengan nama Kampung Kadin.

Di daerah lain juga sama, geliat pelatihan kewirausahaan itu ada. Tinggal ada atau tidak ketertarikan kaum muda kita untuk bergerak maju. Atau masih merasa nyaman dengan apa yang diperolehnya. Sementara kompetitor lain tengah menyusun strateginya. Strategi di dunia maya, begitu dilaunching langsung dahsyat.

Tumbangnya sejumlah perusahaan retail, atau jatuhnya Yahoo seharusnya menjadi pelajaran. Seorang motivator terkenal, Didik Mulato dalam seminar bisnis digitalnya di Batam, Kepri belum lama ini mejelaskan soal semut.

“Semut-semut bersatu, gajah pun bisa tumbang. Anda harus kreatif, inovatif, unggul,” teriak Didik.

Kreatif dan produktif itu bukan hanya bisa dilakukan pengusaha besar. Pengusaha yang tinggal di perkotaan. Pengusaha yang memiliki jaringan luas, yang setiap bulan mengadakan pertemuan internal.

Bahkan di kampung pun, asal ada jaringan internet siapa saja boleh menjadi orang Indonesia yang kreatif dan produktif. Tak salah kiranya Ketua Kadin Kota Kediri, HM Solihin terang-terangan mengajak anak-anak muda di daerahnya membangun usaha kreatif.

Anak anak muda yang ingin berusaha tapi bingung untuk memulai, dibina dan diberikan fasilitas oleh Kadin.

Loh, kurang apa Bro? dan itu bukan hanya dilakukan Kadin. Bejibun Pemda, instansi pemerintah dan swasta yang membuka pelatihan gratis.

“Awalnya saya melihat banyak limbah kaca. Bahkan oleh tokonya disuruh bawa semua. Dan saya berpikir sehingga jadilah karya dari limbah kaca,” ujar Aldi, perajin limbah kaca dari Tanjungpinang, Kepri, Rabu (27/11/2019).

Kini Aldi harus pandai mengatur jadwal pemesanan karena salah satu produknya, lampu hias dengan aroma terapi sedang laku di pasaran.

Bahwa SDM Indonesia unggul, hal ini dipercaya oleh penjual sepatu batik yang tinggal di Bekasi, Adhianti Rina. Dan dengan bangga ia menjual karya anak bangsa tadi melalui online.

hasil karya anak bangsa yang kreatif
Sepatu batik, produk UKM yang mampu menembus pasar luar negeri karena selalu berinovasi dan terus berproduksi. Foto – dok rina

“Kalau SDM-nya tidak unggul, tidak mungkin berpikir menjaga budaya leluhur dengan membuat sepatu dan tas batik yang digemari sampai luar negeri seperti ini,” tuturnya, Selasa (26/11/2019).

Namun unggul saja jika tidak punya kreasi, inovatif dan produktif tak ubahnya dongeng.

Memasuki revolusi industri 4.0, mau tak mau harus kreatif. Hanya dengan SDM unggul bisa mengantarkan negeri ini dipandang oleh negara lain di dunia. Persaingan bukan hanya oleh sesama anak negeri, warga negara lain yang berbekal teknologi akan dengan mudah memasarkan kreativitas mereka.

Inovasi tak boleh dianggap sesuatu yang hanya pantas dipelajari. Nyatanya dalam 5 Program Strategis Kementerian Koperasi dabn UKM menyebut soal inovasi.

Poin kedua ialah peningkatan kualitas produksi dan inovasi untuk meningkatkan daya saing produksi dan jasa yang dihasilkan.

Ketua Umum Kadin, Rosan Roeslani senantiasa meminta pemerintah fokus untuk mengembangkan ekonomi kreatif.

Atau kalian kaum milenial ingin mendengar apa yang disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama?

Di media ia mengaku orang dari bawah, modalnya kreatif. Ia tak punya yang lain, hanya pemikiran kreatif. Ia selalu jual mimpi, pemikiran itu yang ia miliki hanya kreativitas. Saat diangkat sebagai menteri ia pun berjanji tidak akan mengesampingkan ekonomi kreatif (ekraf).

Dengan SDM yang unggul, Indonesia produktif bukanlah slogan semata. Pertanyaannya, kapan kita akan memulai? Atau masih berpikir apalah pengaruhnya jika satu anak muda mencoba produktif, sementara lainnya tidur.

Bagaimana kalau kita ubah pola pikirnya menjadi: yang salah itu yang tak pernah mencoba sama sekali. Yang tak akan pernah merasakan bagaimana nikmatnya terbang. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com