Kisah Semut Ndeso Pergi ke Ibu Kota Negara

semut kecil ke jakarta
Foto - ilustrasi/suarasiber

GOODAY – Seekor semut kecil membayangkan apakah dunia ini hanya lingkungan seperti yang dilihatnya setiap hari? Ia hanya melihat benda-benda yang sama, semut lain yang sama, lingkungan yang sama. Yang baru adalah ketika ada banyak bayi semut yang masuk ke komunitasnya.

Ia berdoa dengan caranya sendiri, kalau memang ada lingkungan yang berbeda, di manakah ia bisa menemukannya? Pernah ia mencoba keluyuran bersama teman-temannya, menurutnya sudah jauh, tetapi yang dilihatnya hanya hutan, rumah-rumah penduduk, ruko, perumahan dan itu-itu saja.

Maklum, semut kecil ini tinggal di sebuah koloni di Tanjungpinang. Memang sebuah ibu kota provinsi bernama Kepulauan Riau, namun dibandingkan ibu kota provinsi lain di Indonesia, khususnya di Jawa, ya gemerlapnya jauh.

Suatu ketika ia tengah santai di depan sebuah bangunan. Ia tengah merenung soal lingkungan baru. Ia tatap matahari dan berpikir, apakah matahari di tempat lain juga sama? Menyilaukan dan panas saat terik? Tak sengaja ia melangkah dan naik ke sandal sorang manusia yang berhenti membeli sesuatu di warung.

Semut kecil tadi sempat bingung. Ia berteriak sekuat tenaga, namun teman-temannya tak mampu berbuat banyak. Apalagi manusia yang sandalnya dinaiki semut kecil ini kemudian melaju dengan sepeda motornya.

Rupanya lelaki itu seorang penceramah. Hari itu hari Jumat, dan ia menjadi khatib di sebuah masjid kampung.

Saat otaknya berpikir keras untuk lolos, semut kecil melihat sesuatu berkibar-kibar oleh angin. Ia melompat dan bertengger di sana. Ia tak tahu itu adalah sajadah sang penceramah.

Semut kecil melihat bagaimana manusia yang sudah membawanya jalan-jalan menyampaikan khotbah di hadapan jemaah salat Jumat. Ia lelah lalu merangkak naik dan masuk ke saku sang penceramah.

Ketika keluar dari saku baju penceramah, semut kecil turun. Tak sengaja penceramah mengibaskan ujung bajuinya di mana semut kecil berpegangan erat. Semut kecil terjatuh ke lapangan yang menurutnya super luas.

Saat semut kecil mendongak, ia lihat begitu banyak pesawat terbang melintas di atas kepalanya. Wuuuiiiih, besar sekali. Kalau ia dan teman-teman sekampungnya naik pasti tak menghabiskan tempat di dalam pesawat.

Semut kecil ini kemudian menoleh ke berbagai arah. Alamak, gedungnya tinggi-tinggi.

Hewan kecil ini kamudian tersadar, mungkin doanya dikabulkan Tuhan. Doa yang dimintanya selama ini, apakah ada lingkungan lain yang berbeda dengan tempat tinggalnya?

Tiba-tiba semut tadi dikejutkan oleh barisan semut lain. Mereka menyapanya karena tampak kebingungan. Maklum semut ndeso.

“Hey kawan ngapain bengong?” tanya kepala rombongan semut.

“Aku bingung sekarang di mana,” jawab semut kecil.

“Kamu di Jakarta, ini bandara. Kami tinggal di lubang bawah tembok dekat tong sampah itu. Mari gabung sama kami.”

“Jakarta?”

“Iya, benar. Kamu dari mana?”

Semut kecil menjawab, “Saya dari Tanjungpinang.”

Rombongan semut tertawa, tak percaya semut kecil bisa pergi sejauh itu. Lalu semut kecil menceritakan secara detil bagaimana ia bisa sampai ke Jakarta.

Barulah mereka percaya.

Gooders yang baik hati di jagat raya, tulisan ini terilhami oleh ceramah jumat yang disampaikan Bapak Ansar Ahmad yang saat itu Bupati Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri. Ia menjadi khatib di Masjid Nurul Iman, Jalan Hanglekir, Tanjungpinang. Saat ini ia adalah anggota DPR RI.

Saya ingat betul, contoh semut Tanjungpinang sampai di Jakarta dijadikan contoh oleh Ansar Ahmad tentang segala kemungkinan yang menjadi hak prerogatif Allah SWT.

Apa yang ingin saya sampaikan di sini Gooders? Saat membaca tulisan ini kalian mungkin terpuruk, tetapi jika Tuhan berkehendak besok pagi Anda bisa lebih kaya dari cowok yang merebut pacar kamu karena punya uang.

Yang saat ini sedang bahagia, bisa saja dua malam nanti menangis sedih. yang tengah anu menjadi anu, dan seribu kesempatan bisa menjadi milik kalian. So Gooders…. semangat yuk. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com