Ketika Rusmaidi Tak Lagi Takut dan Khawatir

Rusmaidi Belong di halaman Pondok Halimatussa'diyah yang didirikannya di tengah hutan di Dabo, Lingga, Kepri. Foto -suarasiber.com

GOODAY – Ini kisah tentang Rusmaidi Belong. Ini kisah tentang kepasrahan kepada Tuhan ketika telah mencoba sesuatu dengan ikhlas. Dan ini kisah nyata dari pedalaman Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Rusmaidi menerima saya dan teman-teman media di halaman rumah yang sekaligus dijadikannya pondok pesantren. Pondok ini diberi nama Halimatussa’diyah, didirikan baru beberapa bulan lalu. Meski di tengah hutan, tepatnya di Desa Berindat, Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga.

Hingga sekarang ada belasan santri laki-laki dan perempuan yang menuntut ilmu di pondoknya. Untuk membantu mengajar para santri menghafal Alquran, Rusmaidi telah mendatangkan tiga guru dari sebuah pondok pesantren ternama di Jawa Timur.

Saya melihat ada beberapa bangunan di area pondok ini. Kalau tidak menggunakan material beton ya kayu. Dan dikerjakan bukan asal-asalan. Beberapa bahkan dibuat seperti tumah panggung. Setiap bangunan terlihat cukup bersih.

Dan semua itu pasti dibangun dengan uang yang tidak sedikit. Pada suatu perbincangan, saya terus terang ingin tahu dari mana Rusmaidi harus memberi makan para santri serta menggaji para guru. Sebab, ia sendiri menggratiskan pondok tahfiznya.

Yakin, Rusmaidi menjawab, “Alhamdulillah, selalu saja ada rezeki itu.”

Bagi dirinya, masih terganggam dengan erat keyakinan ada sebab ada akibat. Ketika melihat pondok tahfiz mulai marak di mana-mana, ia pun melihat sekelilingnya. Banyak anak-anak hanya bermain atau menghabiskan aktivitas dengan kegiatan yang itu-itu saja.

Apalagi daerahnya bukanlah sebuah wilayah yang serba maju. Hingga anak-anak muda justru terlalu sibuk. Ke kafe, main-main, mencari lokasi WiFi gratis atau main game di smartphone mereka.

Rusmaidi ingin memiliki pondok tahfiz Alquran, tempat anak-anak ditempa menghafal Alquran. Dan begitulah, Rusmaidi menuturkan meski mendirikan pondok membutuhkan perjuangan dan biaya, ia merasa jalan itu terasa cukup mudah dilaluinya.

Rusmaidi belajar untuk tidak takut da khawatir menjalani hidup. Ketika ia telah berupaya menjadi manusia, ia pun menyerahkan segalanya kepada pencipta-Nya. Ke Dialah Rusmaidi mengadu. Namun untuk tidak takut dan tidak khawatir diakuinya membutuhkan proses yang cukup panjang.

Ia merasa beruntung selama ini sering mendapatkan kesempatan belajar ke berbagai wilayah di Indonesia, khususnya soal wisata. Sebenarnya Rusmaidi memiliki pekerjaan tetap pengelola sebuah kolam pemandian air panas alamai satu-satunya di Kepri.

Kolam-kolam ini terletak tak jauh dari pondoknya. Namun saat saya ke sana, yang berendam justru tetangganya. Para petani yang rumahnya berjarak sekian kilo dari pondok Rusmaidi. Apalagi untuk mencapai tempat ini tidak mudah. Belum ada angkutan umum dari Dabo yang rutin mengangkut pengunjung ke sini.

Toh begitulah kenyataannya. Di tengah hutan yang luas, Rusmaidi mendapatkan ketenangan batin tatkala menyaksikan anak-anak muda yang diantarkan orang tuanya masing-masing untuk belajar menghafal Alquran.

Sampai pulang kembali ke Tanjungpinang, saya bertanya-tanya bagaimana caranya agar tidak lagi merasa takut dan khawatir. Sementara musim kemarau sudah begitu lama, tangki air di atas kamar belakang tak lagi merasakan penuhnya air. Pompa air hanya bisa nyedot air sumur selama lima menit.

Lalu teringat anak saya yang sekolah SMK di Yogyakarta. Jauh dari keluarga, mencoba hidup sebagai anak kos. Bagaimana pergaulannya, bagaimana salatnya, ngajinya.

Ah, ketika saya mencoba menyingkirkannya, justru muncul kekhawatiran-kekhawatiran lain. Bagaimana jika, bagaimana kalau, bagaimana dengan, bagaimana untukā€¦.. (hingga saya tak menemukan jawaban). Satu-satunya jawaban itu kadang kekhawatiran dan ketakutan itu sendiri. ***

Tulisan ini sudah pernah saya buat di suarasiber.com

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com