Jual Ban Mobil, Toko Ini Gratiskan Isi Angin

jual ban mobil 1
Toko jual ban mobil di Dompak yang menggratiskan setiap kendaraan yang isi angin di tempat ini. Foto - gooday

GOODAY – Jual ban mobil mungkin biasa saja bagi kita. Namun ketika toko penjual ban dan servis mobil menggratiskan semua kendaraan yang mengisi angin di tempatnya, pasti tidak semua tempat.

Suatu hari ban kendaraan saya yang belakang sebelah kanan tiba-tiba terlihat kurang angin. Khawatir bocor, sementara hari masih pagi dan agak sulit menemukan tambal tubeless di kota ini, saya berinisiatif mengisinya dahulu dengan angin.

jual ban mobil 2
Foto – gooday.id

Bila sudah agak siang barulah saya bawa ke bengkel tambal ban. Saya lewat Areca, lokasi wahana air yang cukup terkenal di Tanjungpinang. Lalu lurus ke arah Dompak. Dalam kondisi normal semua kendaraan di Simpang Dompak, dekat Kantor Camat Bukit Bestari yang dari arah Kijang bisa langsung belok kanan.

Namun karena Jambatan II Dompak ditutup total karena tiangnya dikabarkan keropos, maka tak bisa melalui rute itu. Namun saya ingat sebelum jembatan yang ditutup ada bengkel sepeda motor. Bisalah kalau hanya minta tolong tambah angin ban yang mulai “nggleyor” di jalanan.

Saya ke sana, merasa sudah menemukan tempat isi angin. Sayangnya saat saya sampai, bengkel dibiarkan terbuka namun pemiliknya tak ada. Saya sampai turun dan memanggilnya di depan meja toko, namun tak ada yang keluar.

Saya pun putar balik, sampai pertigaan belok kiri ke arah Tanjungpinang City Centre (TCC). Sebelum TCC saya ingat ada bengkel juga, namun malah belum buka.

Nah saya juga sempat melihat sebuah toko jual ban mobil sudah buka. Toko yang lumayan besar, karena ada dua pintu dengan halaman ruko yang luas, Di ujung halaman pemiliknya memajang papan nama bertuliskan merek ban kendaraan terkenal.

Di U Turn sebelum depan TCC, saya putar balik ke kanan, Tak lama kemudian saya masuk ke halaman parkir toko jual ban mobil terdekat dari perjalanan saya. Seorang remaja lelaki dengan sigap melangkah ke arah saya.

Lalu saya tunjukkan kondisi ban kendaraan saya. Ia paham. Diambilnya selang atau pipa angin. Rupanya ia tak langsung mengisi angin ban kendaraan saya yang kempes.

Karyawan ini justru mengecak kondisi angin ban depan kendaraan saya, kanan dan kiri. Setelah itu barulah mengisi ban kendaraan saya yang kempes, juga ban belakang kiri.

Saya keluarkan uang untuk membayarnya. Namun si karyawan tak mau menerimanya. Saya sesaat mencoba-mengingat-ingat apakah saya kenal dengannya. Apalagi karyawan tadi hanya senyum-senyum memandang saya.

Otak saya yang bukan lagi muda akhirnya menyerah, saya tak kenal karyawan toko jual ban mobil itu.

Saya dekati dia dan kembali menyodorkan uang, dan ia juga seperti sebelumnya. Menolak.

Namun kali ini ia menjelaskan sesuatu yang membuat saya tertegun. Karyawan tadi bilang seperti ini: Bos saya melarang siapa saja yang isi angin untuk membayar.

Saya tanyakan apakah benar seperti itu. Karyawan tadi menganggukkan kepalanya.

jual ban mobil terdekat
Foto – gooday.id

“Apalagi kalau kendaraan pribadi, Bang. Memang nggak boleh bayar,” terangnya.

Saya sadar, ini bukan perkotaan. Bisa saja truk-truk proyek bannya kempes. Apa juga gratis?

“Iya, Bang, gratis. Kalau dilihat ban truk itu anginnya banyak, lho. Tetapi bos saya memang memberikan perintah seperti itu, ya tetap gratis,” imbuhnya.

Dan saya sudah telanjur mengeluarkan selembar uang yang cukup untuk satu kali makan. Saya serahkan ke karyawan tadi sambil mengatakan, itu bukan untuk membayar isi angin dan pengecekan ban kendaraan saya. Itu untuk beli sarapan.

Saya paksa hingga akhirnya ia mau juga menerimanya.

Percayalah Gooders, di dunia yang kita yakini sudah tua, bahkan berpikir ini sudah akhir zaman, tetap masih ada orang-orang baik di sekeliling kita. Setiap kali melintasinya, saya selalu memandang toko jual ban mobil itu. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com