Jadikan Foto Pertama Usahamu Menggoda

Danu Sofwan di depan outler Radja Cendolnya
Danu Sofwan di depan outler Radja Cendolnya. Foto - Dokumen Pribadi via detik.com

GOODAY – Apalah arti sebuah nama, mungkin ini sudah tidak relevan di zaman now. Zaman yang canggih, maju, teknologi dan serba instan ini. Usaha nggak ada nama ya kasihan yang nyari. Muter-muter nggak ketemu.

Apalah arti sebuah foto, nah kalau yang ini jawabnya penting. Bahkan penting banget bagi sebuah usaha. Nyatanya Instagram dimunculkan untuk mengunggah konten utama foto, lalu menyusul video. Facebook juga, nggak melulu kata-kata di dinding.

Oke, artikel kali ini tentang foto pertama sebuah usaha yang mendunia. Artinya foto yang diposting pertama di jejaring sosial. Kayaknya jangan asal-asalan deh narus foto pertama usahamu ke dunia tak terbatas.

Salah satu alasan mengapa tulisan ini muncul ketika Gooday membaca artikel dari finance.detik.com yang dipublished pada 17 Juni 2017. Padahal yang ditulis cuma soal cendol.

Haaaaah, cendol? Minuman yang kono sudah dikenal nenek moyang kita sejak dahulu itu? Yup, benar. Eh tahu nggak kalian jika Cendol sekarang naik derajat. Salah satu orang yang ikut menduniakan cendol dan mencendolkan dunia ialah Danu Sofyan.

Mantan pengamen ini adalah pendiri dan pemilik Randol atau Radja Cendol yang pada tahun itu saja sudah memiliki 780 outlet di seluruh penjuru nusantara. Wow, pasti begitu komentarnya. Wew, jangan asal wow gaes…

Ternyata, salah satu strategi yang digunakan lelaki asal Tasikmalaya ini ialah mengunggah foto usahanya ke jejaring sosial. Bukan asal foto jeprat-jepret, apalagi jepret tak sengaja.

Juni 2014, adalah awal Danu membuka gerobak es cendolnya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Modal awalnya Rp6 juta, hasil mengamen sekian lama. Juga hasil menjadi sopor temannya.

Hari pertama, cendol Danu laku 200 cup. Wah, laris mas bro. Eit tunggu dulu. Sebenarnya yang benar-benar terjual cuma 40 cup. Sisanya sebagai strategi pemasaran, Danu menerapkan sistem buy 1 get 2 untuk menarik pasar.

Jos, top markotop cara pemasaran Danu. Lalu dia mendokumentasikannya dan mengunggahnya ke Grup Blackberry Messengar (kala itu yang dimiliki Danu hanya BBM).

Danu broadcast kalau ada peluang usaha baru yang bikin heboh. Besoknya, tiga warga Fatmawati, Bogor dan Banten langsung join franchise. Itu yang langsung balik modal. Hehehe, keren Mas Danu.

Hebatnya, saat meluncurkan foto usaha pertama tentang keramaian gerobak cendolnya ke BBM Group, Danu juga menyimpan senjata lain.

Bukan keris, tombak, atau bambu runcing yang terbukti atas kehendak Allah mampu mengusir penjajah dari negeri ini.

Senjatanya berupa proposal franchise, formulir dan standar operasional prosedur (SOP) untuk menjadi mitra. Jadi pada saat ada yang nanya apakah menerima jpin franchise, Danu sudah siap sedia.

Begitulah, kala itu setiap hari secara rata-rata, Radja Cendol pusat bisa mendistribusikan sekitar 10.000 cup ke seluruh Indonesia. Pendapatan per hari diasumsikan Rp 5.000 per cup.

Ini artinya per hari Danu bisa mencatatkan omzet per hari Rp 50 juta dan per bulan efektif 25 hari Rp 1,25 miliar. Jika bulan Ramadan, permintaan cendol bisa meningkat 30% setiap harinya. Menurut dia karena cendol sudah jadi primadona untuk takjil karena rasanya yang manis dan menyegarkan.

Menurut dia, meskipun cendol dari pinggiran, Radja Cendol berupaya untuk membuat minuman ini memiliki nilai lebih dan tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

“Cendol harus bisa bersaing dengan minuman dari luar negeri. Kami ingin cendol bisa naik kelas dan kami akan gencar mengkampanyekan itu,” ujarnya.

Untuk menciptakan cendol dengan cita rasa prima, Danu mengaku sampai backpacking ke 5 kota. Dia menyusuri jalur Pantai Utara Jawa, ke kota yang punya jajanan cendol. Selama perjalanan, dia menjajal cendol dan mencatat resep-resep dari penjual di kota-kota tersebut.

Gooders yang baik hati, ada yang bisa kalian tiru dari seorang Danu. Ia mengaku tidak takut dengan mulai banyaknya pengikut-pengikut inovasinya.

“Saya justru bersyukur, kalau ada yang jualan sama ya silakan, tujuannya hanya ingin terus serius menjadikan cendol tetap ada di hati masyarakat,” ujar dia.

Sungguh, sebuah pola pikir yang hebat. Zaman now itu zaman banyak yang mengaku pusing. Kalau bisa sesuatu yang mendatangkan rezeki digenggam sendiri. Resep dibungkus rapat. Takut bocor hahahahaha.

Semoga artikel ini menginspirasi Gooders semuanya. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com