John Paul dan Paul Mitchell
John Paul DeJoria dan Paul Mitchell. Foto - paulmitchell.com

Gelandangan Ini Sekarang Kaya Raya, Simak Kisahnya

GOODAY – Sobat gooders di jagat raya, keuletan dan kesabaran seseorang menjadi bekal menuju sukses. Tentu saja garis tangan tetap menjadi rahasia Allah SWT. Namun, setidaknya hidup adalah berdoa dan berusaha, bukan hanya diam di rumah, memandang hujan mengharap uang turun dari langit.

Ini kisah gelandangan jalanan bernama John Paul DeJoria yang tahun ini kekayaannya mencapai Rp35 triliunan. Wah, dikasih duit siapa tuh di Paul? Nah, iya, kan langsung menuding. Uang tersebut hasil kerja kerasnya sobat. Perjuangan yang sangat berat.

Di usia 19 tahun Paul harus meninggalkan rumahnya di salah satu wilayah Amerika Serikat. Ia harus mencari pekerjaan. Dan setahun kemudian, ia harus menerima pahitnya hidup, pernikahannya gagal dan bercerai. Anaknya ikut Paul.

Menghadapi kesulitan seperti itu, Paul tidak menyerah. Peluang apapun diambil. Menjual produk hingga memungut botol sebagai pemulung. Ia sadar ada seorang anak hasil penikahannya yang gagal menjadi tanggungannya.

Kadang dan sering, ia harus minta ke restoran hanya untuk mengisi perut. Beruntung Paul masih memiliki teman yang menawarkan pekerjaan untuknya. Karena memang butuh uang, Paul pun menerima tawaran dari teman-temannya.

Namun kebutuhan hidup yang tinggi tetap membuatnya miskin. Dari semua pekerjaan, yang paling lama dilakoninya ialah sales shampo. Untuk menjualnya ia harus mendatangi rumah demi rumah dan salon kecantikan.

Hingga kesabaran Paul mencapai puncaknya. ia mulai menyadari bekerja dengan orang ada enak dan tidak enaknya. Pada 1980, bersama temannya Paul Mitchell, didirikanlah salon dan perawatan rambut bernama John Paul Mitchell System.

Paul dan Mitchell harus meminjam uang senilai 700 Dolar Amerika. Paul memberanikan diri setelah lama bekerja sebagai sales shampo dan sedikit banyak memahami dunia perawatan rambut. Ia belajar dari barang-barang yang dijualnya.

Usaha tersebut mengalami perkambangan yang luar biasa. Akhirnya juga menjual berbagai macam produk perawatan rambut seperti shampo, cat rambut. Beberapa salon perawatan rambut juga dibuka di beberapa tempat.

Apa yang membuat John Paul Mitchell System dikenal salah satunya karena kreativitas dan inovasinya. Dari website resminya, Paul Mitchell, dicantumkan bahwa mereka menyediakan perawatan rambut yang ramah terhadap hewan. Dalam artian, Paul dan Mitchell tidak menggunakan binatang apapun sebagai kelinci percobaan produk-produk mereka.

Dari Forbes tahun 2017 lalu, total pemasukan dari bisnis ini mencapai 1 Miliar Dolar Amerika atau sekitar Rp14 Triliun. Perusahaan ini memiliki lebih dari 100 produk perawatan rambut dan telah tersebar di 81 negara.

John Paul rupanya tak berhenti sampai di situ. Bersama rekannya Martin Crowley, keduanya mendirikan bisnis tequila. Sebuah pilihan yang sangat berani. namun Paul mengatakan kepada rekan bisnisnya dengan beragam alasan serta pengalamannya selama ini.

Pada 1989 keduanya membeli sebuah pabrik penyulingan di Meksiko, yang kemudian disulap menjadi Patron Spirits Company. Gilanya, tequila yang dijual Paul harganya 37 Dolar Amerika. Padahal pada saat itu harga tequila pada umumnya hanya 5 Dolar Amerika.

Paul berani melakukannya karena menjamin produknya berkualitas tinggi dengan beberapa tahapan penyaringan. Kelasnya premium. Bahkan peoduksi pertamanya mampu terjual 12.000 botol.

Setali tiga uang dengan Paul Mithcell, Patron juga mengalami kesuksesan. Tahun 2011, Fundable menulis pendapatan Paul mencapai 250 Juta Dolar Amerika atau Rp 3,5 triliunan.

Berhentikah Paul? Tidak. Ia kemudian mendirikan sekolah perawatan rambut dengan nama Paul Mitchell School. Di sekolah ini, anak-anak yang kurang mampu mendapatkan beasiswa penuh dan bantuan santunan keuangan selama menuntut ilmu.

Mau tahu berapa jumlah siswanya? Per tahun tercatat ada 10.000 siswa menuntut ilmu di Paul Mitchell School. Nyatanya para lulusan sekolah ini tak sulit mencari pekerjaan.

namun ada satu hal dalam jiwa Paul yang patut dijadikan contoh. Ia menyadari dari mana berasal. ia tak melupakan masa lalunya demi kebaikan. lalu ia mendirikan yayasan amal dengan nama Peace Love Happiness Foundation.

Ia menggalang dana kemanusiaan untuk para korban bencana alam, termasuk korban tsunami di Indonesia.

Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan bagi kita sobat Gooders sejagat raya. ***

About: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com