Cara Berbicara yang Baik, Catatan Tersisa dari 22 Mei

Cara berbicara yang baik akan membuat orang lain bahagia
Cara berbicara yang baik akan membuat orang lain bahagia
Cara berbicara yang baik akan membuat orang lain bahagia. Gambar oleh StockSnap dari Pixabay

GOODAY – Malam hari, tanggal 22 Mei 2019, beberapa titik di Jakarta rusuh. Bentrokan petugas keamanan dengan pengunjuk rasa entah dari kelompok mana yang brutal membuat miris penduduk negeri ini. Dan di sana ada yang “mengajari” saya soal cara berbicara yang baik.

Namun bagi Hidayat, seorang pedagang kopi keliling yang lebih sering dipanggil Starling alias Starbuck Keliling, ia harus pandai melihat situasi. Dan keramaian baginya adalah kesempatan untuk mendapatkan uang.

Berapalah penghasilan seorang pedagang starling seperti Hidayat. Kalau sudah memungkinkan untuk tidak keliling, mungkin Hidayat akan memilih menyewa tempat. Tak perlu ruko, cukuplah tanah dua meter persegi asal bisa ditancapkan tiang dan dinding untuk kedai kopi.

Yang menarik dari seorang bakul Starling satu ini adalah pengakuannya saat terjadi kerusuhan 22 Mei 2019. Hari itu dari pagi malam ia sudah tiga kali mengambil stok ke bosnya. Saat ingin mengambil stok keempatnya, barangnya habis.

Untung Berlipat, Hmm…

Penghasilan Hidayat hari itu memang tiga kali lipat. Lebaran pun sudah mendekat. Biasanya, ada yang baru saat lebaran. Tahukah apa yang diucapkannya:

“Mending Dapat seperti Biasa daripada Ribut Begini…”

Cara berbicara yang baik dari wong cilik. Tidak munafik, Hidayat pasti membutuhkang uang itu. Apalagi doa para penjual jika bukan untuk berlimpah, selain tentu doa yang lain. Dan Hidayat sudah mendapatkannya di tangan.

Pedagang starling ini bukannya tidak bersyukur atas apa yang diperolehnya hari itu. Namun tetap saja ada yang kurang pas. Hati kecilnya sedih, ia meraup untung saat pedagang lain buntung. Ada yang kiosnya dibakar, dagangannya dijarah dan sebagainya.

Lebih dari itu, Hidayat mengaku memilih dapat uang seperti hari biasa daripada untung berkali lipat dalam suasana rusuh seperti hari itu. Pedagang keliling ini tak harus mengikuti public speaking training atau kursus kemampuan berbicara untuk menimbulkan efek positif.

Ilmu Hidayat mungkin hanya menyeduh air panas ke dalam gelas yang sudah berisi kopi, teh atau bahan minuman lain. Hitung-hitungannya pun tak perlu menggunakan kalkulator yang sampai berapa digit. Paling secangkir kopinya berapa rupiah, masih mudah dijumlahkan hanya dengan kemampuan otak di kepala.

Terjaga karena Cara Berbicara yang Baik

Namun cara berbicara yang baik ada di bibirnya, mulutnya, hatinya, tubuhnya. Paling ia tak mengenal para pelaku aksi. Yang dia kenal setidaknya beberapa orang yang memang menjadi pelanggannya. Toh Hidayat tak memikirkan dirinya sendiri.

Buat apa ngurus orang lain? Orang yang terluka? Orang yang harus dirawat di rumah sakit meski biaya pengobatannya ditanggung Pemprov DKI? Mereka juga bukan saudara atau teman, bisa saja Hidayat berpikir seperti ini.

Uuuugh… Hidayat lebih nasionalis ketimbang saya dan Anda. Dia masih mikir mendingan dapat penghasilan seperti hari biasa daripada keuntungannya berlipat namun ibu kota negaranya rusuh malam itu.

Dari Hidayat seharusanya saya bisa mengambil sebuah pelajaran dan teladan yang berharga. Bapak, kakek, guru ngaji dan buku-buku mengingatkan saya, bahwa apa yang kita ucapkan bisa mencerminkan kepribadian kita. Semoga memang seperti itulah Hidayat yang saya jadikan tulisan kali ini.

Bagi mereka yang selalu menjaga lisannya dalam perkataan yang baik, maka kemuliaan akan dia dapatkan. Bukan hanya dalam pandangan manusia namun juga Allah SWT.

Dalil-dalil Terkait Cara Berbicara yang Baik

Dari Alquran

  • “Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” [QS.Al Baqarah : 83]
  • “ Dan katakanlah kepada Hamba-hambaKu, Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)” [QS. Al Israa’: 53].
  • “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi shadaqah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kami kelak memberi kepadanya pahala yang besar”. [QS. An Nisaa: 14].
  • “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih” [QS.Faathir :10].

Dari Assunnah

  • “Jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya sebiji buah kurma dan kalau kalian tidak memilikinya, maka dengan kalimat yang baik.” [HR.Bukhari]
    • Maka kalimat yang baik dapat menjadi salah satu sebab keselamatan dari neraka. Dan boleh jadi seseorang dai menyampaikan ucapan yang baik, dengan niat yang benar. Lalu dengannya Allah menyelamatkan orang lain dari neraka, maka layak bagi dai tersebut untuk mendapatkan balasan yang semisalnya dari Allah. Yaitu diselamatkan dari api neraka. Karena balasan adalah setimpal dengan apa yang telah dikerjakan.
  • “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat yang diridai Allah. Yang ia tanpa sangka-sangka ternyata dengan kalimat itu Allah mengangkatnya beberapa derajat.” [HR.Bukhari]
    • Betapa besar karunia dan keutamaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Apalagi bagi para dai yang memberikan kalimat-kalimat yang baik kepada orang lain. Kelak Allah akan membalas dengan keridaan-Nya dan mengangkat derajat di surga.
  • “Dan kalimat yang baik adalah (merupakan) sedekah.” [HR.Bukhari].
  • “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam.” [HR.Bukhari dan Muslim].
  • Merupakan salah satu dari buah keimanan kepada Allah dan hari akhir adalah seseorang berbicara yang baik dan memberi manfaat bagi dirinya, orang lain dan umat.
  • Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, Rasulullah pernah memberitahukan bahwa surga ada kamar yang bagian luarnya tampak dari dalam dan bagian dalamnya tampak dari luar. Ketika ditanyakan untuk siapakah kamar itu, maka Rasulullah menjawab : “Bagi orang yang baik perkataanya, memberikan makan, dan bangun (salat) malam ketika orang sedang tidur.” [Shahih riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim]. ***

Inspirasi tulisan: kompas.com, belajarislam.com

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com