Bisikan dari Sebelah: Inilah Indonesia

indahnya saling membantu
Foto - ilustrasi/gooday.id

GOODAY – Ada kalanya hasrat itu tak bisa tertahan. Seperti yang saya rasakan petang itu. Kayaknya kalau tidak saya penuhi nanti malah menimbulkan kempunan, kalau orang Melayu bilang.

Kempunan itu bisa diartikan keinginan yang teramat besar, ngiler. Lha kan ya lucu kalau yang saya tahan itu makan mi ayam saja kok harus nunggu waktu yang tepat. Padahal waktu itu seharusnya saya sendiri yang jadi nakhodanya.

Waktu pulang dari tempat usaha di belakang Kantor Polres, Batu 5, Tanjungpinang, saya melewati simpan tiga depan Albaik Swalayan. Belok kanan, di pertigaan ada mi ayam. Ke situlah saya sebenarnya ingin menuju.

Lah, tutup. Saya teruskan perjalanan hingga depan Areca, ada mi ayam Arema. Tutup juga. Saya larikan roda kendaraan ke samping gerbang perumahan di Bintan Centre yang selama ini menjadi salah satu referensi mi ayam bagi saya.

Ternyata tutup juga. Hanya ada dua tempat lagi yang saya ingat, pertigaan ruko Batu 10 dan di Jalan hang Lekir, di Mi Ayam Ceria. Alhamdulillah, di simpang tiga Batu 10 buka. penjualnya yang dari Brebes membuatkan pesanan saya.

Sayang, penjual gorengan yang selama ini menempati sudut jalan persis gak boleh lagi berjualan karena lokasinya berisiko. Persis di tikungan yang ramai. Sekarang mi ayam Mas Brebes inilah yang jadi paling ujung.

Saat saya menyantapnya, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti. Ada seorang lelaki dengan perempuan yang saya juga tak tahu persis apakah itu saudaranya atau ibunya atau istrinya. Tampaknya tiba-tiba saja mesin sepeda motornya mogok. Ia coba untuk terus mengengkolnya, namun sampai capek mesinnya tak menyala juga.

Perempuan yang diboncengnya menjauh, berdiri di dekat pembatas jalan. Kejadian ini saya perkirakan hampir 5 menit, di mana pemilik motor berusaha melihat-lihat bagian samping motornya.

Lalu saya lihat penjual mi ayam mendekat dan bertanya sesuatu. Ia balik, membuka laci gerobaknya dan mengambil sebuah obeng. Obeng itu diberikannya ke lelaki pemilik motor.

Tak lama kemudian saya pun melihat tukang parkir wi lokasi itu mendekat. Malah justru ia yang kemudian membantu membongkar busi motor itu. Ia meminta pemilik motor mengengkol sementara ujung busi ditempelken ke blok mesin untuk melihat ada apinya atau tidak.

Belum lagi mesin motor itu menyala, seorang pemuda yang saya juga tak tahu apakah ia penjual kakilima atau pembeli di salah satu warung yang banyak berderet, datang untuk membantu.

Saat itulah saya mendengar seorang pembeli mi ayam di sebelah saya berbisik: seharusnya beginilah Indonesia itu.

Saya tengok dia, seorang pembeli mi ayam seperti saya yang kemudian mengulas senyum.

Saya paham benar maksudnya. Memang seharusnya seperti itu Indonesia. Saat ada seseorang membutuhkan pertolongan, yang lain tak usah menunggu surat perintah atau semprit ketua regu untuk bergerak membantu. Apa yang bisa dibantu lets do it. Meski hanya membantu memegang, menahan, bertanya, setidaknya seseorang yang kesusahan merasa tak sendiri.

Meski saya tak ikut mendekat, membuka busi atau menahan sepeda motor mogok tersebut, saya merasa bangga. Apalagi saat mesin sepeda motor tadi kembali hidup dan ucapan terima kasih pemiliknya untuk semua yang membantu.

Sumpah, sore itu saya merasakan mi ayam terlezat. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com