Bicara Sajalah, Maka Akan Bertambah Ilmumu

Ada petuah bijak, kejarlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok. Salahkah kalimat tersebut? Oh, yo, ndak sama sekali. Wong artinya kita sebagai manusia diwajibkan mencari ilmu setinggi mungkin, selama nafas masih menyertai kita yo jangan males-malesan mengejar ilmu.

Begini, lho, kata Mbahku dan Guruku di madrasah dulu, yang membedakan manusia dengan mahluk lain salah satunya ya ilmu. Manusia itu harusnya berilmu. Bukan cuma ilmu yang dipelajari dari kitab, buku, surat kabar, televisi, radio, media sosial, melainkan juga dari beragam sumber. Tapi yo dipilah-pilah dulu sumbernya. Jika sudah tahu sumber ilmunya nggak benar yo nggak usah dilanjutkan.

Nanti malah pinter kepinteren, jadinya keblinger.

Sebenarnya untuk mencari tambahan ilmu kuncinya cuma satu. Ini untuk mencari ilmu yang paling mudah. Nggak butuh bawa buku, nggak butuh bawa pulpen, nggak butuh bawa laptop, nggak butuh pakai peralatan lain. Alatnya sudah disediakan sama yang ngasih kita hidup hingga hari ini. Mulut.

Sudah agak lama, saya diundang teman ke Batam. Teman saya ini pekerjaannya membuat furniture. Tujuan utamanya sih cuma pingin dibantu mengoperasikan mesin cutting. Biar kalau ada pemesan perabot yang minta kacanya dipasang sandblast bisa dibuat sendiri.

Karena komputer mejanya belum ada, sore itu, setibanya saya di rumahnya di kawasan Bida Ayu, Tanjungpiayu, teman saya mengajak ke toko komputer. Dipilhlah monitor, prosesor, RAM, motherboard dan tetek bengek lainnya. Program apa saja yang dibutuhkan diinstal sama tukang komputernya. Nunggu agak lama.

Alhamdulillah akhirnya kelar. Saatnya menginstal driver mesin cuttingnya. Sebelumnya, teman saya menggunakan laptop, namun karena dipakai untuk pekerjaan lain mau tak mau ya harus beli komputer meja. Begitu komputer datang, dipasang kabelnya, tara…. menyala sehat.

Lalu ada flashdisk yang saya bawa dan ada driver mesin cutting di dalamnya. Saya lupa flashdisk itu sudah saya tancapkan ke laptop yang ternyata sarang virus. begitu saya colok ke komputer meja, lah yo wis, langsung menyebar virusnya. Kalau virusnya seperti pilek atau batuk pasti teman saya lari ke warung sebelah untuk membeli obatnya.

Lalu hari beranjak malam. Teman saya menelepon temannya, minta tolong diperbaiki komputernya. Saya sendiri masih mencoba mencari informasi bagaimana caranya mendapatkan driver mesin cutting tadi. lalu ada teman di Bengkong yang menggunakan mesin cutting serupa dengan yang dibeli teman saya.

Dikopi, dikirim pakai layanan GoJek. Sambil menunggu driver datang, saya, teman saya dan dua teknisi komputer yang masih bersaudara kandung ngumpul di salah satu ruang showroom furniture teman saya tadi. Lalu semuanya berawal dari bicara.

Saya bicara, disambut teman saya. Dua teknisi komputer bicara, saya mendengar, ditimpali teman saya. begitu seterusnya. Dari sekadar hal ringan, lama-lama banyak hal bisa kami dapatkan. Saya jadi tahu bagaimana dunia tukang furniture, dunia penjual ponsel serta nyambi memperbaiki komputer, dan saya hanya bisa memberikan secuil ilmu bagaimana menulis artikel di blog.

Banyak sekali yang saya dapatkan, tentang warna furniture yang lagi laku, lalu merek ponsel yang lagi disukai warga. Ada trik serta tipsnya yang mudah dipahami karena diucapkan langsung. Sampai GoJek datang mengantarkan driver, komputer belum rampung diperbaiki. Instal ulang windowsnya, lalu diganti sparepartnya sedikit biar lebih ngacir kinerjanya.

Benar-benar sampai pagi kami berbincang. Mata yang seharusnya mengantuk rupanya masih bisa diajak ngobrol. Yo tentu saja ada makanan ringannya. Kacang garing satu bungkus besar, snack lain, minuman. Pokoknya mulut bicara lalu ngemplok kacang, satu-satu, lama-lama ya habis juga.

Pas mau pulang, dua teknisi tadi meminta diri dan mengucapkan terima kasih kepada saya. Lha saya juga harus mengucapkan terima kasih juga. Lha dia membeberkan banyak sekali rahasia, termasuk tips dan trik. Pokoknya kami mendapatkan ilmu gratis.

“Coba kalau diam, hanya melihat mereka bekerja, mungkin tak sampai pagi ngobrolnya,” kata teman saya.

Benar juga. Toh mereka hanya teknisi komputer yang diundang, dibayar jasanya, sudah. Saya dan teman saya bisa saja kok minta izin mau keluar sebentar lalu pergi ke warung nyari makan. Kebetulan dua teknisi tadi saat ditawari makan menjawab baru saja makan. Nyatanya saya dan teman saya memilih untuk bergabung di sebuah ruangan kecil.

Bicara, itulah kuncinya. Bicara itu jangan hanya diartikan membuka mulut lalu keluar suara dari dalamnya dengan intonasi, ritme, irama, aksen tertentu sehingga menciptakan arti yang dipahami lawan bicara. Bicara para tunawicara tak butuh kata dan kalimat. Hanya dengan isyarat orang lain akan paham maksudnya.

Bicaralah sahabat, atau kamu hanya akan merasa paling pandai padahal sebetulnya masih banyak orang pandai. Jangan jadikan sariawanmu membungkam bibirmu rapat-rapat. ***

Tulisan ini telah saya posting sebelumnya di lambenjeplak.blogspot.com dengan judul Bicaralah, Akan Banyak Ilmu Kita Dapatkan

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *