Belajar Syukur jadi Orang Normal dari Kafe Mbok Kom

ochammad shobik owener kafe mbok kom 1
Foto - instagram.com/fira_merenda_asa

GOODAY – Menjelang malas merupakan salah satu bagian waktu yang menyenangkan bagi saya. Biasanya saya di depan laptop membuka-buka sesuatu. Dan tadi malam saya nonton YouTube.

Wealah, YouTube saja bangga hehe. Ya nggak papa, karena di dalam setiap cerita pasti ada berita. Dan dalam pencarian itu ada sebuah video yang mengangkat pengusaha kuliner yang mempekerjakan karyawan disabilitas. Saya langsung klik.

Itu adalah tayangan Hitam Putih yang dipandu host kenamaan Deddy Corbuzier di kanal trans7official, diunggah Desember 2017 silam. Pemilik tempat makan yang “aneh” ini adalah Mochammad Shobik. Lantas apa sih istimewanya lelaki yang juga penyandang tunadaksa ini?

Sepuluh tahun silam, Shobik adalah penjual makanan keliling dengan gerobak. Meski kakinya tak normal, ia tak pernah peduli. Baginya hidup adalah berjuang. Ditambah dengan doa. Rhoma Irama saja pernah mengarang lagu Perjuangan dan Doa.

Foto – instagram.com/idhafuria

Singkatnya, akhirnya Shobik mampu membeli motor, mobil, rumah dan juga berkeluarga. Kalau mau mikir keluarga sendiri sudah cukup, kok. Nggak perlu lagi bersusah payah seperti zaman perjuangan.

Shobik memang gila. Dia sendiri mengatakan kepada Deddy Corbuzier hampir semua teman yang dimintai pendapat menganggapnya gak masuk akal. Pendapat dari saudaranya pun tak jauh berbeda.

Mau tahu idenya apa? Shobik ingin membuka kafe dengan karyawan penyandang disabilitas dan mantan narapidana. Hah? Iya benar- begitulah Shobik.

Singkat cerita, hehe kita persingkat sajalah. Lalu muncullah Kafe Mbok Kom di Jalan Ketintang Madya, Surabaya, Jawa Timur. Inilah kafe milik Shobik. Ada belasan karyawan, dari tunadaksa, tuna rungu hingga mantan narapidana.

Oh, ya, saya singgung dahulu soal nama.

“Saya kasih nama Kafe Mbok Kom karena ingin memberikan hadiah bagi ibu saya. Namanya Komsah. Tanpa ibu saya tidak bisa seperti ini, terima kasih ibu,” ungkap Shobik menitikkan air mata.

Lalu, mengapa harus para penyandang disabilitas dijadikan karyawan? Memangnya yang normal sudah habis di Surabaya?

Foto – instagram.com/satyaputrawardhana

“Karena saya pelaku, mengalami sendiri orang seperti saya tak pernah dapat kesempatan. Saya juga pernah melamar kerja kemana-mana, nggak ada yang menerima,” ujar lelaki yang pernah mengenyam bangku kuliah ini.

Ada satu hal ditanyakan Deddy kepada Shobik? Apa bedanya orang normal dan orang cacat? Dijawab Shobik dengan meminta maaf terlebih dahulu.

“Orang normal itu ngeyelen. Tak pandai bersyukur,” katanya lugas.

Bukan berarti Shobik tanpa komplain pembeli. Hampir setiap hari, apalagi saat baru buka. Pembeli yang langsung pesan menu ternyata dilayani orang yang tak bisa mendengar. Namun ia tak menyerah.

Kafe Mbok Kom tetap eksis dan membuat banyak orang kagum (meski diam-diam). Dan penghargaan Shobik kepada karyawannya sungguh luar biasa.

“Kami sama, kami bekerja sama. Yang di kasir mengawasi kalau ada pembeli komplain, yang lain ngasih tahu yang lain sehingga apa yang dibutuhkan pembeli langsung ditanggapi. Kalian hebat, kalian hebat teman-temanku,” kali ini Shobik benar-benar menangis di tayangan yang pasti ditonton banyak orang.

Kafe Mbok Kom juga menyajikan live musik dengan pemain musik dari kalangan tunanetra.

Sahabat Gooders sejagat raya, mungkin saya dan Anda normal secara fisik. Namun ada yang abnormal saat memandang penyandang disabilitas. Memandangnya sebagai mahluk yang pantas dikasihani. Sementara Sahobik mengatakan, jangan dikasihani tetapi berikanlah kesempatan.

Foto – instagram.com/bagus.setiawan.123276

Ketika Shobik melawan pendapat banyak orang, ia membungkam kekhawatiran mereka yang menganggapnya gila. Bagi saya Shobik memang gila, karena memang nyatanya di luar nalar membuka usaha dengan karyawan seperti itu.

Toh pada akhirnya para pengunjung Kafe Mbok Kom paham, yang melayani mereka hanya bisa membaca gerakan mulut, namun telinganya sama sekali tak mendengar. Untuk itu Shobik sudah mendesain menu makanannya lengkap dengan penjelasan per menu biar calon pembeli langsung tahu.

Saya jadi berpikir, sebenarnya orang-orang normal itu ya seperti Shobik dan karyawannya. Meski dalam keterbatasan ingin melayani orang normal (sungguhan) dengan beragam sifat dan perilaku.

Saya seperti kehabisan kata-kata…

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com