Bapak Buang Kakeknya ke Hutan, Anak Lelakinya Bersikap Seperti Ini

bapak buang kakek jangan ditiru
Bapak yang buang kakeknya bisa jadi karena si anak melihat apa yang dilakukan bapaknya. Foto - gooday.id bapak buang kakek, anak bertanya begini
bapak buang kakek jangan ditiru
Bapak buang kakeknya ke hutan bisa ditiru oleh anak, karena anak bisa berpikir dengan melihat apa yang dilakukan orang tuanya

GOODAY – Saat saya kecil, ibu saya yang guru agama di SD kampung rajin menceritakan dongeng-dongeng kebaikan kepada saya, juga saudara-saudara saya. Diantara sekian dongeng yang masih saya ingat sampai saat ini ialah kisah bakap membuang ayahnya sendiri ke hutan.

Sebenarnya dongeng ini bukan karangan ibu saya. Ada bukunya, berupa cerita bergambar yang dipinjam dari perpustakaan sekolah dimana ayah dan ibu saya mengajar. Ceritanya sangat sederhana, untuk memahaminya juga sangat mudah. Tak menggunakan alur penulisan yang mbulet.

Ceritanya, di sebuah kampung antah berantah, hiduplah seorang kakek, bapak, ibu dan seorang anak lelakinya yang berusia belasan tahun. Kehidupan keluarga ini sangat memprihatinkan. Kakek yang sudah uzur hanya mampu terbaring di kasur yang tak lagi tebal. Untuk makan dan minum serta buang kotoran harus dibantu orang lain.

Sementara bapak hanya bekerja serabutan. Kalau ada pekerjaan ada uang untuk belanja kebutuhan, terutama makan. Ibu hanya mengurus rumah tangga. Rumah yang menjadi tempat berlindung keluarga ini sangat sederhana, ada di tepi hutan. Jauh dari rumah-rumah warga lainnya.

Anak Bisa Meniru yang Dilakukan Orang Tua

Ketika pekerjaan semakin sulit, suatu hari si anak melihat bapaknya memotong bambu, menjadikannya bilah-bilah tipis. Rupanya si bapak sedang membuat keranjang besar. Si anak lelaki dengan seksama memerhatikan pekerjaan ayahnya.

Ia tak bertanya, namun berpikir bapaknya membuat kurungan ayam. Di rumah memang ada beberapa ekor ayam yang kadang harus dicari saat sore hari agar kembali ke rumah.

Suatu sore, betapa terkejutnya si anak ketika melihat bapaknya mengangkat tubuh kakeknya lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Dengan seutang selendang milik ibu, bapak ini berniat mengangkat keranjang bambu berisi kakek. Si kakek yang sudah tua tak bisa berbuat apa-apa.

“Mau dibawa ke mana kakek, Pak?” tanya si anak.

“Bapak mau buang kakek ke hutan karena hidup kita semakin susah. Untuk makan bertiga saja susah, apalagi harus memberi makan kakek yang tak bisa lagi bekerja,” jawab si bapak.

Karena selama ini anak dekat dengan kakek, ia pun menangis. Saat bapaknya baru beberapa langkah meninggalkan pintu rumah menuju jalan setapak ke hutan, si anak mengatakan sesuatu kepada bapaknya.

Baca Juga:

Perjalanan Hidup Ir Ciputra Meraih Sukses

Tak Kebagian Makanan, Ibu-ibu Ini Mengucapkan Sesuatu yang Membuat Kaget Penjualnya

Bripda Risda Yuliandari, Anak Buruh Bangunan Miskin Jadi Lulusan Terbaik Sekolah Polwan 2019

Limbah Kaca yang Dibuang-buang Pun Disulap Menjadi Pabrik Uang

Di Tengah Roda Zaman, Gerakan Tubuh Gadis Belia Kampung Enao Ini Patut Dibanggakan

“Pak, nanti keranjangnya bawa pulang ke rumah, ya?” ucapnya.

“Buat apa?” tanya bapaknya tanpa menoleh.

“Biar nanti kalau bapak sudah tak bisa lagi bekerja dan tinggal di rumah saya, saya tak perlu membuat keranjang lagi untuk membuang bapak ke hutan.”

Langkah si bapak terhenti, sejurus kemudian ia balik langkah dan masuk ke rumah. Dikeluarkannya tubuh kakek dan meletakkannya di kasur.

Saatnya Merenungi sebuah Kejadian

Gooders, yang saya tulis hanyalah dongeng zaman saya kecil. Namun ada catatan yang mungkin bisa kita jadikan bahan perenungan bersama.

Pertama, menyayangi orang tua adalah sebuah keajiban bagi anak-anaknya. Bagaimana pun kita lahir karena ada orang tua.

Kedua, ketulusan dan keihlasan menjalankan sesuatu termasuk menyayangi orang tua bisa jadi ujian bagi kita dari Tuhan. Apakah kita kuat untuk melewatinya atau memikirkannya sesaat lalu mengambil keputusan secepat kilat.

Ketiga, tanpa kita sadari anak-anak bisa meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Seperti dalam dongeng di atas, dengan kepolosan sebagai bocah, si anak meminta bapaknya membawa pulang keranjang untuk digunakan dalam misi yang sama.

Begitulah gooders yang bisa saya tuliskan malam ini. Semoga bermanfaat. *** -Nurali Mahmudi-

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com