free page hit counter
menunggu-waktu-berjalan-di-traffic-light-bisa-menimbulkan-emosi-bagi-yang-berpikiran-sempit
Foto - gooday.id

Yang Berpikiran Sempit di Traffic Light

GOODAY – Pagi tadi, kira-kira pukul 09.00 WIB lebiah sekian menit. Di sebuah traffic light di depan sebuah pusat perbelanjaan di Batu 8 Atas. Percakapan dua orang membuat saya ingin menuliskannya di blog ini.

Saya mengendarai sepeda motor dari arah pusat wahana air yang terkenal di Tanjungpinang. Ketika sampai di traffic light yang ada di perempatan jalan tersebut, kebetulan lampu menyala merah. Karena saya tidak berada di deretan pertama, saya harus menarik gas di tangan agar putaran roda motor berhenti.

Terdapat dua mobil di depan saya, lalu seorang ibu memboncengkan anaknya, perempuan muda berkerudung merah dengan tas punggung disandangnya.

Lalu ada seorang bapak-bapak mengenakan kaos lengan panjang. Ada tulisan nama sebuah dinas dan nama pemdanya di punggung kaos panjangnya. Bapak ini berhenti paling ujung kiri. Ia menyandang peralatan pemotong rumput.

Ia sempat melirik ke arah saya, memastikan “peralatan tempurnya” tak mengenai saya. Saat saya menatap matanya, ia tersenyum. Saya balas senyumnya. Kata guru mengaji saya sejak kecil, senyum itu ibadah.

Wuih, alhamdulillah pagi ini saya banyak beribadah. Keluar dari rumah berpapasan dengan tetangga yang rumahnya di ujung, saya tersenyum. Setelah itu di kedai kelontong dan sayur tempat saya biasa belanja, saya juga tersenyum.

Ini karena mbak pedagangnya berteriak saay saya melintas, “Baaang! Petainya besar-besar!”

Memang begitu Si Mbak, kalau petai pesanannya dari Jawa datang, ia pasti memanggil saya seperti itu. Karena saya biasa mengonsumsi buah yang baunya tajam ini.

Traffic Light kok Ditunggu

Pokonya saya beberapa kali tersenyum, dari rumah sampai traffic light yang ada di perempatan.

Belum lagi lampu menyala hijau, seorang lelaki muda mengenakan helm yang tak menutupi bagian dagunya merapat. Ia memaksa melewati sia ruang jalan di sebelah kiri yang tersisa. Ia berboncengan dengan temannya, tampaknya seumuran.

Kemaja mereka bersih, kemeja panjang dan celana kain yang tampak rapi. Ada ID card tergantung, namun saya tak bisa membacanya apa tulisannya. Soalnya ID Card itu terselip di dalam jaket, hanya talinya yang terlihat menyembul.

Pas di sebelah saya, di belakang bapak-bapak yang membawa peralatan potong rumput.

“Jam berapa?” tanya yang mengemudi.

Yang dibonceng lantas melihat pergelangan tangannya. Lalu menjawab.

Yang di depan tampak tengak-tengok. Sempat juga ia menatap ke arah saya. Saya sudah bersiap-siap mau memberinya senyuman. Oalah, buru-buru ia mengarahkan kepalanya ke depan.

“Traffic light kok ditunggu. Nggak usah ditunggu juga nanti hujau sendiri,” kata pemuda di boncengan sambil menepuk bagu pemboncengnya.

Tampaknya dan semoga memang benar-benar harus cepat, ketika traffic light belum juga hijau pemuda ini langsung bergerak. Ada sentakan pada gerakan awal sepeda motornya.

Bapak-bapak di depan saya disalipnya. Saya baru saja hendak menarik gas pelan-pelan, ketika tiba-tiba terdengar makian.

Oalah, pemuda tadi nyaris terjatuh ketika mencoba menikung terlalu tajam ke kiri. Ia menghindari bagian depan mobil di depan saya yang juga belok kiri.

Namun dua pemuda itu saya rasa tak mendengarnya, karena langsung tancap gas.

Soal Waktu Menunggu

Saya jadi berpikir. Mungkinkah saya yang terlalu santai, menganggap menunggu lampu traffic light berubah itu singkat. Dan tak apalah menunggu sistemnya bekerja. Dari kuning, merah baru hijau. Saat hijau barulah boleh go.

Atau mungkin karena suasana hati seseorang? Kalau lagi menunggu sesuatu, menunggu traffic light pun terasa lama. Kalau sedang senang, menunggu pun serasa blast, flash…. wus wus wus. Cepat sekali.

Yang pasti, saat saya ada di pole position menunggu lampu traffic light hijau, dan saya terlambat 5 detik saja pasti terdengar klakson. Klakson pengendara kendaraan yang ada di belakang saya.

Kadang tak cuma satu orang yang klakson. Beruntung saya bukan orang yang hobi menekan tombol klakson. Baik klakson mobil atau motor. Kecuali memang kepepet dan mengingatkan seseorang di jalanan. Kalau hanya untuk ngebut… rasanya kok gimana.

Atau saat ada yang tekan klakson saya bilang begini saja, ya. “Kalau tak sabar, silakan terbang.”

Tapi nggak usahlah, biarkan saja. Lagian hampir sebulan sudah saya bersama anak saya yang liburan sekolah. Beberapa hari lagi saya akan mengantarnya ke Yogyakarta sekaligus belajar sesuatu di Magelang. ***