free page hit counter
Ilalang di kosnya, Yogyakarta. f-gooday

Yakini Kebesaran Tuhan, Remaja Ini Dapatkan Apa yang Dicita-citakan

GOODAY – Namanya Muhammad Farand Ilalang, lahir di Batam 2003. Mengenyam TK di Batam, Lingga, Bintan. SD di Bintan dan Tanjungpinang. SMP di SMP Negeri 4 Tanjungpinang. Inilah perjalanannya masuk Sekolah Menengah Musik (SMKN 2 Kasihan Bantul), Yogyakarta.

Ilalang baru mengenal gitar saat kelas VIII SMP. Sebagai ayah, kala itu saya iseng-iseng menawarinya apakah ingin belajar main gitar. Langsung dijawab dengan anggukan. Kebetulan saya punya teman yang punya gitar, saya pinjam dan bawa pulang.

Hasil rontgen tangan Ilalang. f-dok/gooday

Lalu saya ajari kunci kunci yang mudah. Selebihnya saya suruh lihat di Youtube. Tak butuh waktu lama, sebulan kemudian Ilalang sudah bisa memainkan lagu-lagu sederhana. Untuk mengetes bakatnya, saya bawa ke Bintan Irama Serasi. Ini adalah kursus musik Yamaha yang ada di Tanjungpinang.

Tetapi saya tidak langsung mendaftarkannya sebagai siswa. Kebetulan guru gitarnya, Sandi (sekarang mengajar gitar di sekolah di Semarang) bersedia untuk tes bakat. Dari guru musik ini saya dikabari jika Ilalang berbakat. Ya sudah, belajarlah anak ini di Bintan Irama Serasi.

Namun ia hanya bisa mengikuti les setahun lantaran harus meneruskan ke SMA. Nah di sinilah awalnya kisah ini. Saat mendapatkan kabar ada sekolah musik setingkat SMA statusnya negeri di Yogyakarta, Ilalang rajin googling.

Dapat, namanya Sekolah Menengah Musik (SMKN 2 Kasihan Bantul), Yogyakarta, yang sudah berdiri sejak zaman penjajahan. Ilalang pun ikut mendaftar online. Zaman sekarang hehe, semua serba online.

Untuk merayakan selesainya ujian nasional, Ilalang dan teman-teman dekatnya bermain-main ke pantai. Dan ia terjatuh, pergelangan tangannya mengenai akar pohon yang me nyembul dari tanah. Masih tertimpa badannya yang memang gemuk.

Pascaoperasi di RSUD Provinsi Kepri. f-gooday

Langsung ditangani ahli tulang tradisional. Setelah 20 hari tak belum menunjukkan perubahan berarti, akhirnya tak ada jalan keluar selain rumah sakit. Ilalang harus merelakan kulit tangannya disayat pisau, kondisi yang awalnya ingin dihindari.

“Nanti kalau main gitar kan tampak bekas jahitannya, Yah,” ujarnya.

Dokter bedah di RSUD Raja Ahmad Thabib, Provinsi Kepri, setelah melakukan serangkaian pemeriksaan akhirnya memutuskan agar tangan Ilalang segera dioperasi. Salah satu alasannya, berupaya mengejar jadwal ujian di SMM Yogyakarta, 1 – 5 Juli 2018.

Saya ingat, operasi dilakukan pada hari ke-4 Ramadan 2018. Saya menjadi begitu dekat dengan Ilalang. Biasanya hanya bertemu malam hari, saat saya pulang kerja. Atau hari libur. Dijadwalkan satu jam, operasi molor hingga 3 jam.

Menurut dokter yang menanganinya, ujung tulang yang patah sudah tak lurus lagi. Apalagi setelah 20 hari, sudah kaku. Namun dokter dan timnya berupaya menyambungnya dan akhirnya operasi berlangsung lancar.

Sakit, jelas. Siapa bilang operasi tak sakit. Meski tak sakit saat daging disayat, tetap saja ada yang terasa sakit. Ilalang menahan sakit saat obatnya dimasukkan lewat pergelangan tangan yang sudah dipasang alat. Nyut nyut sampai ke hati, katanya.

Ada satu perubahan yang terlihat pada Ilalang. Sejak jatuh, keyakinannya kepada Allah SWT mengalahkan segalanya. Suatu malam, di rumah sakit ia berkata seperti ini kepada saya.

“Ilalang beruntung ya, Yah. Tulang patah saat ujian nasional selesai. Untung hanya tulang tangan yang patah, kepala tidak apa-apa. Lalu dokter juga masih mau operasi. Dan operasinya berjalan lancar. Semoga Allah mendengar doa Ilalang ya, yah,” ujarnya.

Begitulah, ia rajin salat meski sakit. Ia ambil cara termudah, berbaring. Sampai saya akhirnya mengingatkannya, “Tak ada yang tahu cerita Allah, Nak. Jika keinginanmu diluluskan Allah, ingat Dia kapan saja.”

Kenangan daftar ulang. f-gooday

Akhirnya tibalah jadwalnya untuk terbang dari Tanjungpinang ke Yogyakarta, akhir Juni 2018. Kesepakatan dengan Ilalang, ke SMM untuk mencabut berkas. Lantaran dokter menyarankan agar mementingkan perawatan tangan pascaoperasi. Ilalang pun sudah setuju. tahun ini cabut berkas, tahun depan ikut tes lagi. Setahun di Tanjungpinang tak apa-apa sekolah di SMA umum.

Saat mengutarakan niat, seorang guru di SMM menyarankan agar mencoba ikut tes. Ada 11 orang di ruang tes yang akan menilai apakah seorang calon siswa SMM pantas diterima atau tidak. Sebelum tes ini sudah ada tes wawancara. Menurut guru SMM ini, bakat anak tidak bisa dipungkiri.

Dan sekolah ini juga tidak memberlakukan syarat, calon siswa harus sudah lihai memainkan alat musik.

Keluar ruang tes, saya dekati Ilalang. ia cerita di akhir tanya jawab ada yang nanya apakah bisa main gitar. Rupanya Ilalang ingin menunjukkan bahwa jari-jarinya masih bisa digerakkan meski belum sempurna. Pasalanya masih dibalut perban.

“Baru setengah lagu sudah disuruh berhenti, yah. Kata guru penguji takut lukanya malah semakin parah.”

Malamnya, di rumah seorang teman yang menjadi kami menginap selama menjalani tes di SMM, saya selalu pompa semangat Ilalang. Jika tak diterima, masih banyak cara untuk mengasah bakatnya. Ilalang menangis.

Baca Juga:

http://gooday.id/2019/02/22/perjuangan-para-pegawai-ini-luar-biasa-rela-iuran-demi-tugas-negara/

Kisah Ponsel yang Tertinggal di Sebuah Toko

Bersyukur sebagai Sebuah Bangsa

Kisah Terpendam dari Lorong Sepatu (5)

Antusiaslah dan Eksekusi Gagasan Anda

“Tetapi Allah pasti tahu saya sudah berjuang sejauh ini ya, Yah.”

Selama itu saya yang membersihkan luka bekas operasi. Membuka perban, mencuci jahitan, memberinya salep lalu membungkusnya lagi dengan perban. Saya minta diajari perawat di RSUD Provinsi Kepri.

Dan sekali lagi Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Ilalang diterima, bergabung dengan 25 siswa jurusan instrumen gitar se-Indonesia. Satu-satunya siswa baru yang masih mengenakan perban di tangan kirinya. Jadwal dokter di Tanjungpinang, buka wire baru bisa dilakukan 19 Agustus. Sementara 16 Juli masuk tahun ajaran baru. Sebelumnya Ilalang harus mencari kos, karena tak ada saudara si Yogyakarta.

Terjadi pergulatan dalam batin saya. Satu sisi saya harus ke Tanjungpinang karena bekerja, satu sisi bagaimana nanti Ilalang mengenakan celana dan sebagainya.

Bersama temannya di SMM Yogyakarta. Foto-gooday.id

Suatu malam, saya duduk di teras rumah kos Ilalang, di Jomegatan. kebetulan bapak kosnya juga tengah di teras. Bincang sana-sini akhirnya saya mendapatkan nomor orang rumah sakit yang bersedia melakukan perawatan di rumah atau homecare. Ya Allah, luar biasa.

Dan benar saja, orang yang direferensikan bapak kos akhirnya menangani Ilalang. tak hanya merawat di rumah kos, orang ini juga membawa Ilalang ke rumah sakit jika memang membutuhkan jasa rumah sakit. Ilalang dan orang ini pun dekat.

Wire di telapak tangan Ilalang sudah dilepas. Saatnya fisioterapi, dan lagi-lagi ada spesialis fisioterapi yang menangani Ilalang. Saya hanya melakukan komunikasi melalui ponsel. Singkat cerita fungsi tulang Ilalang normal kembali.

Memang harus berkorban. Karena tak menyangka diterima, gitar yang dibeli di tempat les Yamaha ditinggal. Saya putar-putar menggunakan motor teman mencari gitar untuk Ilalang. Untung ada Google Maps, itu saja modalnya untuk menghabiskan rute-rute jalan di Yogyakarta.

Kini Ilalang sudah semester dua. Dia cerita punya teman dari Malaysia, ada juga siswa dari Amerika dan satu hal yang selalu saya tanyakan ialah: sudah salat dan ngaji, Nak? Baru kemudian bagaimana tangannya. Khusus pertanyaan terakhir ia selalu menjawabnya begini: seperti punya tangan lagi, Yah. ***

2 thoughts on “Yakini Kebesaran Tuhan, Remaja Ini Dapatkan Apa yang Dicita-citakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *