Usia 2 Bulan Jadi Anak Angkat, Kecilnya Dibully dan Dihina, Kini Berpangkat Kombes

Foto - suarasiber.com

GOODAY – Gooders yang budiman, nasib seseorang benar-benar tak ada yang bisa mengira-ira. Sebab itu mutlak hak prerogatif Tuhan Yang Maha Kuasa. Kisah hidup dan perjalanan meniti karir seorang Enjang Hasan Kurnia ini mungkin bisa menjadi sumber motivasi.

Lahir dari keluarga sangat pas-pasan, Enjang sudah harus menghadapi beratnya hidup sejak usia 2 bulan. Di usia itu ia harus diangkat di sebuah keluarga. Bayi Enjang tak punya pilihan lain, lagipula apalah daya anak manusia seumuran itu.

Kombes Pol Enjang Hasan Kurnia. F – suarasiber.com

Kondisi keluarga yang mengangkatnya juga tak lebih cukup dari orang tuanya. Dalam pertumbuhannya, Enjang masih mengingat bagaimana ia harus ikut orang tua angkatnya pindah pindah rumah kontrakan.

Uang yang dicari untuk kebutuhan hidup sehari-hari habis pada hari itu juga. Untuk makan besok, ya dicari lagi. Saat Enjang sudah bisa mulai berpikir, ia nyaris tak ada impian. Tatkala kebanyakan temannya sibuk memikirkan cita-cita, atau paling tidak memiliki jawaban ketika ditanya apa cita-citanya, Enjang belum terpikirkan menjadi apa.

Beranjak remaja, Enjang mengaku sudah biasa dengan hinaan, ejekan, dihina dan perlakuan serupa. Ia tak pernah berpikir bahwa saat itu ia tengah mengalami apa yang oleh orang zaman sekarang disebut bully. Ya Enjang menjadi korban. Namun ia tak bisa melawan.

Ia masih ingat, ketika usianya menginjak usia anak untuk bersekolah, jutru orang lain yang mengingatkan orang tua angkatnya untuk menyekolahkannya. Ketika akhirnya Enjang mulai bersekolah, ia harus menjalaninya dengan serba keprihatinan.

Namun Tuhan tak pernah tidur. Tuhan tak pernah ngantuk. Dalam segala keterbatasan, akhirnya Enjang mampu menamatkan sekolahnya. Kuliah? Baginya itu sebuah khayalan, bukan lagi angan-angan. Jika angan-angan masih memiliki peluang untuk digapai, tetapi kalau khayalan ibarat seseorang ingin menjadi Superman, pakai jubah, ikat di lehar, lalu hentakkan kaki dan terbang melesat ke angkasa.

Pikirannya terbuka ketika ia diminta temannya mengantarkan untuk mendaftar polisi. Dan Enjang kemudian mencoba untuk mendaftar. Soal nanti ditempatkan di mana, itu urusan ke sekian. yang dipikirkannya satu, bisa diterima saja sudah bersyukur. Karena selama ini pelariannya lebih banyak ke Tuhan, Enjang pun lebih memilih meminta ke Sang Pencipta.

Bagi Enjang, Allah SWT adalah zat yang serba ter. Terkuat, terhebat, terkaya, dan ter lain. Tuhan bisa mengubah nasib seseorang hanya dalam hitungan kilat menyambar. Enjang meyakininya segenap hati, sepenuh hatinya, bulat-bulat. Untuk urusan percaya Tuhan tak bisa ditawar-tawar lagi.

Selain itu Enjang juga percaya, kasih ibu sepanjang jalan. Enjang yakin ibunya senantiasa mendoakannya. Doa seorang ibu adalah kekuatan bagi sang anak, meski anaknya tak pernah mendengar langsung ibunya berdoa setiap malam, setiap hari.

Baca Juga:

Menikmati Jajan Khas Melayu Tempo Dulu Ala Pasar Warisan di Penyengat, Wah Seru

Semangat dan Perjuangan Hebat Pelajar di Pulau Jeri Ini Patut Ditiru

Biarkan Dunia Tahu Engkau Telah Beraksi Kawan!

Apalah Arti Seekor Anak Kucing, Pikirku

Suka Menolong Warga, Honorer Pemda Ini Dapat Kejutan yang Tak Pernah Ia Sangka

Tuhan mengizinkan Enjang diterima. Bekerja sebagai anggota polisi dilakonya dengan sungguh-sungguh. Semua berkat pengalaman hidupnya, saat diberi kesempatan dan kondisi yang lebih nyaman Enjang tak mau melupakan perjuangannya.

Saat artikel ini ditulis, Enjang adalah Kombes Pol Enjang Hasan Kurnia. Jabatannya Kepala Biro SDM Polda Banga Belitung (Babel).

Ia bahkan menulis sejumlah buku, diantaranya berjudul Kamu Hebat! Isinya adalah 20 kisah inspiratif 20 calon Bintara Polri yang berasal dari keluarga pas-pasan, atau kalau boleh meminjam istilah lain, miskin.

Untuk itu, jika ada remaja yang mengeluhkan hidupnya, merasa tak berhak menggenggam cita-cita hanya karena orang tuanya miskin, disarankan oleh Enjang untuk membaca buku tersebut.

“Agar bisa tahu bagaimana sakitnya hidup yang dijalani orang lain. Meski sakit, mereka pantang surut dan terus berusaha semaksimal mungkin,” kata Enjang seperti dilansir dari suarasiber.com. ***

Artikel ini dilansir dan diolah dari suarasiber.com

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *