Akuh Pada Mu
Foto - Akuh Pada Mu/seizin hanglekir photography

Tangan Berjabat, Mata di Layar Smartphone

GOODAY – Tulisan ini saya buat hanya beberapa menit setelah pulang dari salat Idul Adha. Seperti yang selalu diingatkan imam sebelum memimpin salat berjemaah, seusai salam diharapkan tidak pulang dahulu melainkan mendengarkan ceramah Idul Adha.

Ceramah di saat salat Idul Adha tidak jauh dari perjalanan Nabi Ibrahim dan Ismail. Kepasrahan tertinggi dari seorang Nabi yang harus meninggalkan anak istrinya di padang demi panggilan Allah. Lalu kebesaran hati seorang Ismail kecil yang mempersilahkan ayahnya mengerjakan perintah Allah.

Dan ceramah pun berakhir. Sapi dan kambing di halaman masjid tempat saya salat Id sudah saling bersahutan. Sebentar lagi panitia kurban masjid akan bekerja. Memotong hewan kurban, membagikan dagingnya untuk mereka yang berhak menerimanya.

Sebelum bangkit, lazimnya saling bersalaman. Kalau saya mengartikannya sederhana, dengan bersalaman sesama muslim di sebelah kanan, kiri, depan dan belakang itu akan menambah teman. Setidaknya kita mengenal wajahnya.

Tuhan selalu punya cara untuk menemukan kita dengan seseorang di mana yang Ia kehendaki. Bisa saja saat antre di ATM ada yang menyenggol bahu kita dan bertanya, “Mas, masih ingat?”

Lalu menatap wajah sang penyenggol dan keluar jawaban, “Masih, Mas. Yang di masjid kemarin, kan?”

Atau saat sama-sama makan di sebuah warung. Tiba-tiba saat Anda mau keluar dan membayar tagihan, pemilik warung memberitahu makanan yang Anda makan sudah dibayar.

Oleh siapa, ya?

Lalu seseorang melambaikan tangannya di balik kaca mobilnya sambil tersenyum dan mengucapkan salam.

Sambil menjawab salam mungkin Anda menerka-nerka siapa itu. Coba ingat-ingat, siapa tahu ia adalah jemaah di samping kanan Anda saat salat berjemaah yang kerepotan karena dua anaknya tertidur.

Setelah bersalaman, ia meminta bantuan untuk membantu mengangkat salah satu anaknya. Tuhan bisa apa saja, apalagi hanya menjadikan beberapa orang yang awalnya jemaah sebuah masjid menjadi teman dekat.

Ceritanya, beberapa orang di sekitar saya duduk bersalaman. Kebanyakan memandang wajah sambil tersenyum. Nah, salah satu yang kami ajak berjabat tangan mungkin memiliki pesan yang sangat penting.

Karena begitu ceramah diakhiri salam, ia langsung mengeluarkan ponsel dari kantong baju kurungnya (koko). Dua smartphone sekaligus. Lalu ia sibuk membukanya. Entah apa yang dibukanya, saya rasa tak elok kalau saya mengintipnya hehe.

Ia memberikan tangan kanannya, namun tatapan matanya sama sekali tak melihat siapa yang mengajaknya bersalaman. Matanya memandang lekat ke layar smartphone yang dipegangnya dengan tangan kiri.

Saya hanya berpikir, luar biasa kekuatan sebuah smartphone. Kekuatan untuk tidak mengalihkan pandangan dari layarnya.

Atau jangan-jangan jabat tangan sudah tak penting lagi? Apalagi kalau saya tengok chat teman-teman saya, banyak yang menyisipkan stiker untuk mewakili sesuatu. Untuk mewakili marah, sedih, mengejek pun gampang, tinggal pilih lalu tekan kirim.

Yang mengungkapkan gembira mulutnya ketawa lebar, yang sedih ada air mata dari kedua sudut matanya, yang jatuh cinta gambar hati, yang waring gambar kepalan tangan, yang nagih utang ngirim stiker gambar duit.

Memang komplit sekarang ini. Atau jangan-jangan suatu saat bertatap muka secara langsung dengan orang lain juga dianggap ketinggalan? Jabat tangan ketinggalan, ngobrol langsung juga ketinggalan.

Atau saya yang memang produk kuno, masih mikir dan menjadikan hal remeh temeh seperti ini dalam tulisan. Soalnya saya masih tidak berani untuk tidak mencium tangan ibu saya lalu menempelkan hidung saya ke telapak tangannya.

Juga jabat tangan dengan saudara-saudara saya sewaktu ada kesempatan, bisa kumpul bersama di rumah orang tua.

Saat saya hendak mengakhiri tulisan ini, seorang teman mengirimi saya kartu ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha. Ada kalimat mohon maaf jika ada kesalahan di bawah gambar itu.

Hmm, agaknya memang semakin tak ngetop jabat tangan langsung itu hehehe. ***

About: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com