free page hit counter

Salah satu sudut Tanjungpinang, Gedung Gonggong, malam hari. Waktu yang pas untuk jadti driver online. Foto - nurali/gooday

Sopir Online di Tanjungpinang? Laku Gak Ya?

GOODAY – Sore tadi, pukul 17,00 WIB, kalau lewat atau kurang paling beberapa menit, saya memesan moda transportasi online. Dari Jalan Sidorejo, Seijang ke Jalan Radar, Kelurahan Batu IX ongkosnya Rp52.000.

Saya pantau pergerakan kendaraan yang akan menjemput saya, saat menerima panggilan pesanan saya si sopir yang ada baiknya saya kasih nama Ripos tengah mangkal di Lapangan Pamedan.

Saya lihat Ripos tersendat di mendekati Polres Tanjungpinang, sebelum belok kanan, lalu di Lapangan Futsal belok kanan. Begitu tiba, saya naik di depan dan mulai ngobrol dengan Ripos.

Lelaki ini mengaku lahir di Batu 5, Tanjungpinang, dari orang tua perantau dari Semarang, Jawa Tengah. Kini ia tinggal di Tanjungpinang karena istri dan anaknya di kota ini. Sementara orang tua juga saudara orang tuanya tinggal di Batam.

Selama perjalanan Ripos rupanya menjadi teman yang enak diajak ngobrol. Bagaimana ia menceritakan enaknya menjadi driver online di Tanjungpinang.

Setidaknya ia membandingkannya dengan di Batam. Ia mengambil contoh di Batam, dari Jodoh ke Batuaji kira-kira Rp70 ribu. Lalulintasnya padat merayap.

“Macet di Kepri Mal, sementara dengan ongkos yang sama, saya membawa penumpang dari Bandara RHF sampai ke sini,” ujarnya saat mobilnya masih melenggang di Batu 5.

Dengan ongkos yang sama, jarak yang ditempuh di Tanjungpinang lebih pendek ketimbang di Batam. Bagi driver online, hal itu tentu sebuah keuntungan. Tak terlalu lama di jalan, bahan bakar bisa lebih irit.

Bahkan jika malam hari, Ripos mengaku kerap mendapatkan order jauh-jauh. Namun sejauh-jauhnya antar wilayah di Tanjungpinang masih bisa ditempuh dalam waktu singkat. Apalagi malam hari, kondisi jalannya sepi.

“Kalau malam minggu saya bisa ngantongi sampai enam ratus ribu rupiah,” ujarnya.

Padahal Ripos bukan driver yang bangun pagi-pagi. Ia terbiasa keluar pukul 14.00 WIB, tidur pukul 03.00 WIB atau 04.00 WIB.

Saya berpikir, bukan memikirkan ingin menjadi driver online seperti Ripos. Yang saya pikirkan selama ini mungkin salah. Saya masih menganggap teknologi semacam Grab atau Gojek yang kategori mobilnya belum ramai digunakan.

Jika mendegarkan penurutan Ripos, agaknya hal itu tak selamanya benar. Berapa banyak warga Tanjungpinang yang sebenarnya memiliki mobil dan memiliki waktu luang untuk menekuni usaha ini.

Lalu saya teringat saat menengok anak saya di SMKN 2 Kasihan Bantul, Yogyakarta. Saya bertemu dengan driver online yang berasal dari Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang.

Ia nekad merantau ke Yogya memang untuk menjadi driver online. Dan mobil yang dipakainya untuk nambang (istilah Tanjungpinang) hasil dari driver online tadi.

Ujungnya agaknya kembali ke hal paling dasar, di mana ada kemauan di sana ada jalan.

“Sampai, Mas,” ujar Ripps lirih.

Loh, sudah sampai depan rumah. Saya serahkan ongkosnya. Lalu Ripos menginjak pedal gas pelan-pelan dan mobilnya berlalu dari hadapan saya.

Terasa di kulit tangan saya, titik titik kecil air. Aih gerimis lagi. Alhamdulillah ada orang – orang seperti Ripos yang menjadi driver online. ***