Resep Hidup Bahagia Sang Perantau, Menyentuh Hati

GOODAY – Dua malam lalu, saya bertemu dengan seorang pekerja sebuah tempat penginapan. Dalam obrolan santai, ia mengatakan resep hidup bahagia itu sebenarnya tidak sulit.

Sebut saja namanya Pak Dhe, berasal dari sebuah kota di Jawa Tengah. Sudah belasan tahun ia merantau ke Provinsi Kepri. Tujuannya untuk memperbaiki nasib. Karena keahliannya menangani penginapan, pekerjaan yang dijalaninya juga tak jauh dari bidang tersebut.

Pak Dhe memiliki seorang istri dan tiga anak. Ketiganya sekolah di Jawa, di pondok pesantren. Demi pendidikan anak-anaknyalah lelaki yang usianya lebih dari setangah abad ini bertahan.

Awalnya kami ngobrol soal-soal keseharian. Saya bertanya bagaimana kunjungan tamu di penginapan yang dikelolanya. Oh, iya, penginapan kali ini merupakan tempat kerja yang ke sekian setelah berpindah-pindah. Dan dari proses alam ini ia mengaku mendapatkan resep hidup bahagia.

Resep Hidup Bahagia bukan karena Gaji Besar

Hingga suatu akhirnya Pak Dhe bercerita, ia harus bersabar. Sekian tahun mengelola penginapan, sudah wajar ia membayangkan akan mendapatkan THR. Ya, Tunjangan Hari Raya yang biasanya diterima setahun sekali menjelang Idul Fitri.

Rupanya harapan itu tinggal kenangan. Namun yang saya dapatkan malam itu membuat saya kagum akan kebesaran jiwanya. Ia tak mau bercerita panjang lebar soal pemilik penginapan yang dikelolanya. Ia masih berpikir positif, mungkin ada hal lain sehingga lupa memberinya THR.

“Rezeki tak akan tertukar, Mas. Alhamdulillah saya masih diberi kesehatan. Masih diberi kesadaran hanya sebagai mahluk, ada Pencipta di atas sana. Ke sanalah saya bergantung,” ujarnya.

Saya tahu gaji Pak Dhe tidaklah besar. Dan ia harus membaginya dengan anak-anaknya di Jawa. Beruntung untuk tidur ia tak harus mengeluarkan biaya lebih. Karena ia mendapatkan sebuah kamar di penginapan.

Jika dihitung menurut kalkulator manusia, gajinya tak mencukupi untuk kebutuhannya juga anak-anaknya. Semuanya diceritakan kepada keluarganya. Sehingga mereka pun tahu bagaimana perjuangan ayahnya di perantauan.

Resep hidup bahagia menurutnya hanya berdoa, berusaha dan sisanya diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Manusia tak bisa merangkai sesuatu dan ngotot memastikan hasilnya. Sama sepertinya, merantau adalah jalan yang diharapkan mampu mengubah hidupnya lebih baik.

Namun jika sampai saat ini masih seperti itu, ia tak menyalahkan siapa-siapa. Apalagi Tuhan yang diyakininya punya rencana yang lebih baik untuknya.

Kebohongan yang Mengharukan

Ada suatu hal yang membuatnya menangis di depan saya. Adalah kebohongan yang dilakukan anak sulungnya kepada ibunya. Kebohongan ini terkait THR yang seharusnya memang menjadi hak ayahnya sebagai karyawan yang sudah bertahun-tahun mengelola penginapan.

Tahun-tahun sebelumnya Pak Dhe memang mendapatkan THR. Jadi ketika ia bercerita kepada anaknya tahun ini ia tak menerima THR, ada kesedihan mendalam.

Lantas apa yang dilakukan anak sulungnya yang menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren? Dia bercerita kepada ibunya mendapatkan kiriman uang THR dari ayahnya. Namun uang itu dipakainya untuk kebutuhan menuntut ilmu, dibagi dengan ketiga adiknya.

“Saya menangis, Mas. Ketiga anak saya benar-benar tahu kondisi saya. Jadi dengan bercerita seperti itu, ibunya pun paham. Padahal saya tidak mengirimkan THR itu, karena tidak menerimanya,” ujar Pak Dhe.

Ia menyeka air matanya beberapa kali. Peristiwa itu sudah terjadi menjelang lebaran Idul Fitri tanggal 5 Juni kemarin. Namun ia merasakan masih terasa baru kemarin.

Resep Hidup Bahagia Itu di Kejujuran

Pak Dhe memang senantiasa jujur kepada keluarganya. Namun saat ia tak menerima THR, ia awalnya bimbang bagaimana harus mengatakannya. Tak ingin langsung mengatakan hal itu kepada istrinya, ia mencoba menelepon anaknya yang sulung.

Kejujuran sebenarnya ada dalam hati setiap manusia, ujar Pak Dhe. Namun tak banyak yang bisa menemukannya, apalagi memunculkannya. Ia pun mengakui bisa mendapatkan resep hidup bahagia itu melalui perjalanan panjangnya.

Bicara bahagia, Pak Dhe memiliki tingkatan tersendiri. Ia tak mau menyamakan tingkat bahagianya dengan orang lain. Karena ia tahu apa yang telah membuatnya bahagia belum tentu bisa diterima orang lain.

Baginya, bahagia merupakan pilihan, keputusan yang lahir dari hati setiap manusia. Itulah yang kemudian diperjuangkan dan dinikmati dalam nafas sehari-hari.

“Bahagia bagi setiap orang itu berbeda, Mas. Ada yang menerjemahkan bahagia itu sebagai tercapainya kerja keras yang ujungnya identik dengan materi. Kalau itu arti bahagia, saya tidak memilikinya,” tuturnya.

Bisa mendidik anak-anaknya menjadi orang yang memahami keadaan orang tuanya, ayahnya yang perantau, baginya sudah cukup. Kebahagiaan itu juga bertambah tatkala ia masih bisa mengirimkan uang bulanan untuk ketiga anaknya.

Bahagia itu juga tatkala ia masih bisa mengiem SMS kepada istri dan anak-anaknya. Karena untuk viedo call ponselnya tak mendukung untuk itu.

“Resep hidup bahagia bagi perantau tua ini sederhana, Mas,” tututpnya.

Malam semakin larut, kami masih bersama menghangatkan suasana dengan cerita yang penuh makna. ***

About: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com