free page hit counter
lebaran idul adha di pantai trikora
Aneka panganan dan jajanan di teras sebuah warung di Pantai Trikora menyambut Idul Adha 2019. Foto - gooday.id

“Pukulan” Keras di Pantai Trikora, Tersungkur…

GOODAY – Ya baru saja saja. Belum ada 1×24 jam, bahkan baru sekitar 1 jam lalu saya balik dari sebuah lokasi wisata di deretan Pantai Trikora, Bintan, Provinsi Kepri.

(Sebenarnya tulisan saya tentang Tangan Berjabat… itu bisa saya selesaikan sehabis salat Idul Adha pagi tadi. Lantaran rasanya kok pingin pergi ke pantai, saya tinggal dahulu, baru diselesaikan sebelum tulisan yang ini saya buat)

Saya sengaja memilih pantai yang tak terlalu ramai. Karena saya hanya ingin tidur-tiduran di gubuk di tepi laut lepas. Satu persatu lokasi wisata saya lewati.

Madu Tiga, Marjoly, atau Pizza Italia, Pemkab Bintan dan sebagainya coba saya lihat dari jauh. Kok ramai ya? Pikiran saya, mungkin mereka menikmati liburan Idul Adha yang kebetulan jatuhnya kok ya di hari Ahad.

Sebenarnya saya melaju dari Tanjungpinang ke Simpang Batu 16. Dari rumah otak saya sudah memikirkan Pantai Trikora. Namun entah mengapa begitu sampai pertigaan jalan tersebut (sebentar lagi jadi perempatan kalau ujung jalan Kijang – Batu 16 sudah menyatu) saya kok malah belok kiri. Padahal jelas kalau mengikuti rute ini akan mengarah ke Lagoi.

Dan sadarnya justru mendekati jembatan yang tak jauh dari simpang Kantor Pemerintahan Pemkab Bintan di Bintan Buyu. Ya, sudah, kendaraan jalan pelan-pelan, musiknya KLa Project, AC matikan (suasananya masih asri banyak pohon, sudah dingin hehe. padahal mau nulis ngirit bensin hhh), saya melintasi komplek perkantoran itu.

Lalu di ujung, saya pilih besol kiri, lalu ada pertigaan belok kanan, akhirnya tembus ke Lome. Saya awalnya belok kiri, putar balik di tempat parkir Trikora Pemkab Bintan, balik arah dan sampailah di sebuah tempat.

Sepi, semua gazebonya masih tampak kosong. Nah tempat seperti ini yang saya cari. Paling juga butuh minuman, paling praktis air kelapa. Ada warung pengelola pantai dan musala.

Saya langsung menuju salah satu gazebo yang dibuat hampir semuanya dari kayu. Tiangnya kayu, kerangka atapnya kayu, papan panggungnya juga papan kayu. Hanya atapnya saja rumbia dilapis plastik.

Seorang ibu-ibu datang, ia lalu membersihkan alas papan panggung dengan sapu lidi biar bersih.

“Terima kasih, Bu,” ujar saya.

Dijawabnya sama-sama. Ia kemudian melanjutkan pertanyaan untuk saya,”Enak bisa jalan-jalan.”

Saya tak menjawab, hanya tersenyum. Kadang senyuman itu merupakan jawaban yang tak harus dijelaskan lho. Nyatanya ibu-ibu tadi paham dan membalasnya dengan senyuman kecil.

“Kalau kami tak bisa kemana-mana. Hari raya seperti ini selalu sibuk,” lanjut dia.

Sambil duduk memandang laut saya dengarkan suara ibu-ibu itu. Kemudian ia mengatakan, saat saya datang keluarganya belum semuanya berkumpul.

Masih ada beberapa yang menjadi panitia kurban di masjid. Biasanya siang nanti keluarga besarnya datang untuk berkumpul sambil makan-makan.

“Kalau hanya buat 100 biji ketupat, tak akan ke mana. Sekali hidang habis,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Meski bukan Hari Raya Idul Fitri, namun masyarakat Melayu yang tinggal di Pantai Trikora masih banyak yang mempertahankan adat. Masih tetap saling berkunjung ke tetangga. Masih saling memaafkan.

Awalnya saya tak menyangka kalimat ibu-ibu pengelola pantai akan sedalam itu. Apalagi saat ia menanyakan, pasti kebiasaan seperti itu sudah tak lagi ada di kota, termasuk saya.

Jleb, itulah pukulan keras berupa kata-kata yang menghujam hati saya. Saya nggak marah, cuma malu. Lha jelas saya yang paling pagi di tempat dia, baru saya seorang.

Dari jarak sekitar 10 meter, saya lihat anak-anak muda bergerombol di teras rumah ibu-ibu tadi. Mereka mengelilingi meja yang penuh dengan jajanan lebaran. Saat ada yang baru datang, yang lain mengulurkan tangan.

Rasanya kok waktu lambat sekali berjalan saat ibu-ibu tadi masih di dekat saya. Saya langsung tak fokus. Saya tahu ia masih menceritakan soal lebaran yang menurutnya sudah jauh semaraknya dibandingkan ia kecil.

Jleb, masih mempertahankan tradisi seperti itu dibilangnya jauh sekali berkurang semaraknya dibanding zaman dahulu. Sementara saya usai salat Idul Adha, menuliskan beberapa alinea artikel yang kemudian saya tinggal.

Saya memilih ke Pantai Trikora di Hari Raya Idul Adha.

Saat ibu tadi membawakan pesanan saya secangkir teh o atau teh panas manis, rasa manisnya kok tak terasa sama sekali. Hati saya sudah telanjur hambar, ditelanjangi dengan kata-kata yang bagi saya duh sakitnya tuh di sini.

Malu, nggak bisa ngomong apa-apa. Cuma ndengerin, sesekali menjawab iya, iya.

Saya hanya butuh menunggu teh panasnya menjadi hangat untuk masuk ke perut. Byuh, rasanya lama sekali. Saya pun ke pantai pasir putih, bermain-main air laut yang berulang kali datang dan pergi ke pantai.

Saat teh saya sudah tak terlalu panas, saya pulang. Dan inilah tulisan tentang pukulan telak tadi. Lalu saya kembali ke belakang, ah, andaikata tadi saya ke pantai yang sudah banyak pengunjungnya mungkin tak pernah mendapatkan pukulan keras itu. ***