Pemulung Tua Itu Menghipnotis Saya

Emak-emak depan kios

GOODAY – Usianya saya tebak sudah kepala enam. Namun itu tak menyurutkannya untuk berjalan, entah berapa kilometer sudah dilaluinya di perjalanan umurnya. Senyumnya menyingkirkan segala lelah, capek, sedihnya.

Saya hanya menyebutnya emak-emak. Itu pun saya jadikan kartu nama di hati, karena tidak pernah sekali pun saya menggunakannya saat bertemu dengannya.

Saya selalu duduk di kursi di depan komputer, sementara Emak-emak itu menyusuri jalan aspal di depan kios usaha saya di Jalan Sidorejo, Tanjungpinang, Provinsi Kepri. Nyaris saya hanya menatapnya saat ia lewat.

Kami tak pernah bertatap muka secara dekat. Awalnya saya membuang bekas air minuman di “pantat” gelas bekas minuman hari sebelumnya. Tak sengaja saya melihat seorang perempuan tua mendorong gerobak kayu berisi sampah-sampah yang bisa didaur ulang.

Lalu saya menatapnya. Lho kok emak-emak itu juga menatap saya. Saya sebenarnya ingin langsung masuk, namun sesuatu menahan saya. Emak-emak itu tersenyum kepada saya.

Selanjutnya, setiap kali melihat saya ia hanya mengucapkan kalimat: sehat, Mas?

Diucapkannya saat ia baru turun dari tenah depan kios yang lokasinya tinggi, diucapkannya sambil mendorong gerobak kayunya dan melihat saya di dalam kios.

Lama-lama saya menjadi terbiasa. Bahkan kalau tidak melihatnya rasanya ada yang kurang. Entah hipnotis apa yang ditiupkan emak-emak itu kepada saya. Saudara bukan, kerabat bukan, namun saya merindukannya.

Keramahannya itu yang membuat saya ingin belajar kepadanya. Keihlasannya juga. Saya tak pernah tahu beban hidup apa yang dirasakannya. Yang saya tahu, bahkan pekerjaan pemulung pun masih bisa membuatnya tetap tersenyum kepada saya dan pasti juga ke banyak orang lain.

Mendorong gerobak berisi sampah-sampah daur ulang itu pasti bukan ringan. Kalau pas rezeki bagus, banyak sampah bisa diambil, rodanya yang berukuran kecil pun masih tampak putarannya yang pelan. Bukan tak mau diajak kencang. Tenaga pendorongnya yang tak lagi muda.

Dua kata dari emak-emai tadi, sehat dan mas, cukup bagi saya. Itu adalah doa dari seorang ibu.

Sudah beberapa hari ini saya tak lagi melihat emak-emak itu lewat depan kios saya. Saya kehilangan keramahan yang tulus darinya. Entah hipnotis apa ditiupkannya kepada saya. Terkadang saya beranjak dari kursim berdiri dan melangkah keluar kios.

Hanya untuk memastikan emak-emak itu tampak dari ujung jalan.

Beberapa hari lalu, tanah kosong di depan kios saya yang biasanya dinaiki emak-emak untuk sekadar mencari barang bekas dibabat. Karena itu tanah milik kantor pemerintah. Sekarang tak lagi tersisa pepohonannya. Gundul. Bahkan saat saya mengetik tulisan ini ada asap mengepul dari tembok kotak tempat sampah di samping kantor.

Ada bis tua warna merah dan kuning. Bayangkan dua warna itu. Sama-sama panas. Ditambah kepulan asap di dekatnya. Jika ada senyuman emak-emak, saya pasti lebih tenang.

Ah, emak-emak, semoga engkau sehat. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com