free page hit counter
kami menggunakan google maps untuk berkeliling Yogyakarta
Sejumlah sudut yang sempat direkam anak saya saat blusukan di Yogyakarta. Foto - gooday.id

Orang Kampung Blusukan ke Yogya pakai Google Maps

GOODAY – Google maps sudah terinstal lama sekali di ponsel saya. Tetapi benar-benar saya rasakan manfaatnya tatkala “blusukan” ke Yogyakarta, kira-kira Juni 2019 lalu.

Selama ini saya memang tinggal di Tanjungpinang, bagian dari Pulau Bintan di Provinsi Kepri. Lagian di sini ngapain juga menyalakan Google Maps karena boleh dikatakan sudah mengenal wilayahnya. Bahkan sudut-sudutnya Insyaallah nggak kesasar.

Yogyakarta juga bukan kota yang asing. Hanya, saat itu kalau ke sini main-main. Dari Purwokerto naik kereta, besoknya balik lagi. Baru secuil sudut Yogya yang memang saya kenal. Paling ya Malioboro atau Shopping Centre, nyari bahan buat skripsi. Ngirit lha wong mahasiswa perantau.

Nah Juni 2018 itu anak saya diterima di SMKN 2 Kasihan Bantul atau Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Kalau mencari kos mudahlah, di depan sekolahannya di Bugisan banyak yang menyewakan kamar kos. Tetapi yang dibutuhkan anak saya bukan hanya itu.

Google Maps dan Toko Gitar

Salah satu adalah gitar, karena ia diterima di alat musik gitar. Saatnya menjajal Google Maps. Pinjam sepeda motor teman kuliah yang kini sudah menjadi pengusaha material alat lukis di depan Kampus ISI.

Berbekal fitus besutan Google inilah saya dan Ilalang (nama anak saya) berkelana. Kata kuncinya memang sederhana, toko gitar. Dan bermunculanlah lokasi-lokasi toko gitar yang sudah diggoglemapskan oleh pemiliknya.

Tujuan pertama kami ialah Indie Alat Musik, setelah melihat-lihat foto yang diposting pemiliknya. Toko ini ada di Jalan Imogiri Timur Km 8,3 RT 05, Tamanan, Banguntapan, Glagah Kidul. Di sini tak ada yang cocok. Lalu pencarian dilakukan untuk lokasi berikutnya.

Beberapa lokasi kami datangi. Setelah sekian tempat akhirnya kami menuju ke Toko Musik RCS Jogja yang ada di Dusun Semoyan, Kelurahan Singosaren II, Kecamatan Banguntapan Bantul. Di sini baru dapat barangnya.

Google Maps membuat kami lebih pasti mengarah. Tanpa Google Maps bisa saja asal tarik gas, nanya-nanya, yang pasti akan membutuhkan waktu lebih lama.

Lewat fitur ini juga kami mendapatkan kebutuhan lain seperti ponsel dan seragam busana Jawa di lokasi berbeda.

Susahnya Bensin Eceran

Pengalaman yang membuat malu kalu diingat yaitu mencari bensin eceran. Entah di daerah mana, Google Maps mengarahkan lewat jalan tembus terdekat masuk gang. Ibu ibu yang tengah santai di depan rumah menyapa kami dengan ramah.

Keluar masuk gang, persawahan, njeblus lagi di jalan kota, masuk kampung pokoknya ngikuti Mbah Google. Nah suatu ketika bensin motor menipis. Di jalan kampung mustahil menekukan SPBU.

Sambil mengemudi sambil melirik kanan-kiri. Cukup jauh tetapi kok bensin eceran dalam botol gak ada yang jual.

Haus, kayaknya harus minum dahulu. Mampir ke sebuah warung dan iseng-iseng bertanya di mana ada yang jual bgensin eceran. Dan ditunjukkanlah sama Mbak penjualnya bengkel kecil di dekat warungnya.

Usai makan dan minum perjalanan blusukan pun berlanjut. Di tempat yang direferensikan saya bilang beli bensin. Lah, langsung saja yang saya tanya mengambil sebotol cairan berwarna hijau.

Dan saat itu juga saya langsung ngeh, mudheng, paham, tahu, i know. Rupanya saat itu para pedagang bensin eceran di Yogyakarta sudah menjual Pertamax, berwarna hijau. Bukan lagi Premiun yang warnanya kuning.

Kalau dalam wayang ini saatnya goro-goro, guyonan berseliweran. Saya ngakak sendiri diikuti anak saya setelah mendapatkan penjelasan penjual bensin ecerannya.

Mboten namung Mase ingkang bingung. Wingi nggih wonteng tiyang saking NTB mampir mriki tanglet bensin (Nggak cuma Mas yang bingung. Kemarin ya ada orang dari NTB ke sini menanyakan bensin),” kata Si Bapak.

Bukan begitu pak, dalam hati saya. Kalau sadar bahwa yang di botol berwarna hijau itu bensin ya sudah sejak tadi saya isi bensin. Sebelumnya nggak sadar, karena di Tanjungpinang nyaris nggak ada yang jual Pertamax eceran, karena Permium memang masih di jual.

Begitulah, teknologi sudah mengantar saya dan anak saya sampai ke berbagai tempat di kota lain. Saya bersyukur banyak manusia yang dengan kerelaannya mengunggah lokasi-lokasi tertentu sehingga memperkaya peta di Google Maps.

Berkat pengalaman tersebut, saya pun mencoba aktif sebagai Google Local Guide dengan mendaftarkan nama atau lokasi tertentu yang saya kunjungi dan belum didaftarkan. Siapa tahu lokasi-lokasi tersebut bermanfaat buat orang lain.

Selain membantu orang, alhamdulillah sering dapat gift menarik dari Google. Yang diskon menginap di hotel, diskon tiket pesawat sampai gratis langganan berita sebuah portal nasional.

Pesan saya: jangan takut keluyuran, kawan. ***