free page hit counter

Kisah Terpendam dari Lorong Sepatu (4)

Sekian Lama Aku Menunggu…

GOODAY – Dulu, lagu berjudul Menunggu karya Bang Haji Rhoma Irama yang sukses dinyanyikan duet bersama Rita Sugiarto (kalau tak salah) sempat tenggelam. Belakangan, lagu tentang penantian untuk kedatangan seseorang ini kembali menggeliat, bahkan bangun tidur setelah Ridho Roma menyanyikannya ulang bersama grup bandnya, Sonet 2. Jika saya tuliskan lagu ini di tulisan bersambung soal Lorong Sepatu, jangan-jangan Anda langsung menebak pasti lagu ini menjadi favorit para tukang sol sepatu.

Bisa jadi iya, meskipun kemarin saya tak sempat bertanya satu persatu kepada tukang sol sepatu di tempat ini, apakah mereka menggandrungi lagi cinta nan mendayu ini. Tetapi kalau kata menunggunya dibedah lebih dalam, erat sekali hubungan dengan tukang sol sepatu. Dalam hidup ini, siapa sih yang tak pernah menunggu? Lihatlah lelaki lajang di Tepi Laut itu, asyik memencet-mencet keypad qwerty Blackberrynya, mengirimkan BBM-nya kepada sang pacar yang ditunggunya berjam-jam tetapi yang ditunggu lupa kalau punya janji bertemu. Ini bukan soal tukang sol sepatu yang rezekinya ditunggu anak atau istrinya di rumah. Melainkan, penantian para tukang sol sepatu.

Saya tuliskan di bagian awal, setiap tukang sol memiliki kotak masing-masing untuk menyimpan koleksi sepatunya. Tentu Anda berpikir, bagaimana tukang sol sepatu ini bisa mengoleksi sepatu begitu banyak. Padahal, mereka kan hanya menerima perbaikan, dan sepatu yang sudah dipermak diambil lagi sama pemiliknya. Kalau situasinya ceteris peribus (istilah ekonomi yang lebih kurang artinya kondisinya normal-normal saja) sih begitu, kenyataannya ada yang hanya datang menyerahkan sepatunya yang agak rusak dan tak kembali lagi!

Tentu saja tukang sol sepatu ini tak secanggih konter-konter handphone atau elektronik lain yang mencantumkan nomor hape pemilik agar mudah menghubungi jika barangnya sudah siap. Pokoknya ada yang datang dengan sepatunya, dikerjakan sesuai kerusakannya. Paling-paling tukang sol sepatu akan menjawab berapa lama ia menyelesaikan pekerjaannya. Selanjutnya terserah pemilik sepatu.

Semua, bukan hampir lagi, tukang sol sepatu di Lorong Sepatu selalu menunggu sepatu yang sudah dikerjakan diambil kembali. Kalau seminggu tak juga diambil, ternyata masih ada masa menunggu kira-kira 90 hari. Menurut saya, waktu tiga bulan ini cukuplah bagi pemilik sepatu untuk datang dan mengambil kembali sepatunya, tentu saja setelah membayar ongkos jasa. Menurut tukang sol sepatu, waktu tiga bulan juga sekaligus memberikan kesempatan kepada pemilik sepatu, siapa tahu saat mau mengambil sepatu anaknya butuh uang jajan, atau istrinya ingin membeli bumbu lengkap karena ingin masak makanan istimewa.

“Kalau sudah tiga bulan tak diambil, ada yang saya pakai sendiri. Ada juga yang dijual,” ungkap Indra yang lapak mininya ada di sebelah Pak John. Lapak ketiga dari arah dalam lorong sebelah kanan, berhadapan langsung dengan sebuah toko emas.

Begitulah yang terjadi dengan nasib sepatu yang ditinggal pemiliknya tanpa alasan dan kabar, meski lewat SMS. Dan bagi tukang sol sepatu, sudah menjadi kewajibannya menyelesaikan perbaikan sepatu yang dipercayakan kepadanya. Mau diambil atau tidak, bukan lagi tanggung jawab mereka. Kalau sudah tiga bulan baru datang, dan sepatu sudah telanjur dijual lagi atau dibuang, harusnya pemilik sepatu tadi tahu diri dong.

“Entah sudah berapa pasang sepatu yang saya buang ke tong sampah. Kalau hanya rusak alasnya lalu tinggal menjahit, eh begitu selesai kok tak diambil-ambil, ya saya buang saja. Berapa sih harga tali jahit? Paling juga rugi tenaga. Daripada disimpan, atau ditawarkan ke orang tak laku-laku juga. Semua tukang sol sepatu di sini pernah melakukan hal ini, itu di tong sampah depan,” Pak John yang ikut angkat bicara.

Menunggu memang tak mengenakkan, dan jangan salahkan keputusan sang kekasih yang mengambil keputusan meninggalkan Anda. Alasannya, Anda ditunggu-tunggu tak datang. Untung cuma ditinggalkan, lha kalau dibungkus plastik terus dibuang ke tong sampah senasib dengan sepatu-sepatu tadi? He he he.  (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *