free page hit counter
Chairul Tanjung bersama keluarga
Foto - instagram.com/putri_tanjung

Kisah Sukses Chairul Tanjung, Anak Singkong yang Jadi Konglomerat

Chairul Tanjung bersama keluarga
Chairul tanjung bersama istri dan anak-anaknya. Foto-instagram.com/putri_tanjung

GOODAY – Bos CT Corp, Chairul Tanjung memiliki sejarah kehidupan yang bisa menginspirasi. Karena ia lahir dari keluarga sederhana, bukan mewarisi kekayaan orang tuanya. Berikut kisah sukses Chairul yang sering disebut CT, semoga bisa menginspirasi.

Pada tahun 2012, Tjahja Gunawan Diredja mengangkat kisah sukses konglomerat ini ke dalam buku berjudul Chairul Tanjung Si Anak Singkong. Buku ini diterbitkan oleh Kompas. Terkait kata si anak singkong, rupanya begitulah kenyataannya. Itu untuk menggambarkan bahwa Chairul Tanjung bukanlah anak orang kaya.

Sukses yang kini diraih Chairul berkat kerja keras dan semangat luar biasa. Bangkrut menjalankan sebuah usaha bukan berarti takut untuk mencobanya lagi. Berkat kegigihannya, namanya berkibar sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.

Ayahnya Hanya Wartawan Koran Kecil

Ayah Chairul Tanjung bukan konglomerat, hanya seorang wartawan koran lokal yang juga tak bisa disebut koran besar. Dengan pekerjaannya itu, tentu sangat sulit untuk menyenangkan ketujuh anaknya dengan materi. Chairul Tanjung kecil pun merasakan bagaimana ayahnya harus menafkasi keluarga.

Orde Baru menyisakan kenangan bagi Chairul Tanjung karena pada zaman itu koran tempat ayahnya bekerja harus tutup. Ditutup pemerintah kala itu. Tak lagi memiliki penghasilan tetap, sementara kebutuhan keluarga tak bisa ditunda, akhirnya ayah Chairul Tanjung menjual rumah yang selama ditempati.

Keluarga ini kemudian tinggal di sebuah losmen kecil. Butuh waktu lagi agar bisa berinteraksi dengan warga kanan kiri. Beruntung meski hidupnya sederhana, Chairul Tanjung masih bisa menempuh pendidikan formal di sekolah.

Keterbatasan materi tak menyurutkan Chairul Tanjung yang bersekolah di SD dan SMP Van Luth di wilayah Gunung Sahari, Jakarta. Chairul Tanjung belajar dengan sungguh-sungguh.

Keulaten yang membuat Chairukl Tanjung sukses seperti sekarang. Foto – instagram.com/putri_tanjung

Kemudian Chairul Tanjung melanjutkan pendidikannya ke SMA Negeri 1 Jakarta atau dikenal dengan SMA Boedi Oetomo di Jakarta Pusat. SMA dilaluinya dengan baik, lantas ia meneruskan pendidikannya ke Universitas Indonesia mengambil jurusan Kedokteran Gigi yang dirampungkannya pada tahun 1987.

Selama menjadi mahasiswa, rupanya bakat bisnis Chairul Tanjung sudah tampak. Salah satu buktinya, saat kuliah ia masih menyempatkan waktu untuk berbisnis kecil-kecilan. Yaitu berjualan buku-buku kuliah, kaos dan fotokopi.

Menjalani dua kesibukan, sebagai mahasiswa kedokteran yang pasti banyak tugas dan menangani bisnis, Chairul Tanjung ternyata bisa membagi waktunya dengan baik. Bahkan ia pernah menyandang predikat mahasiswa teladan tingkat nasional pada tahun 1984 – 1985.

Usaha Peralatan Kedokteran dan Bangkrut

Sebagai dokter, membuka usaha di bidang peralatan kedokteran dan laboratorium tak lantas mengibarkan kejayaan Chairul Tanjung. Tak lantas menggelembungkan pundi-pundi kekayaannya. Justru bangkrut yang ia alami.

Alih-alih frustasi atau putus asa, Chairul Tanjung tetap mencari peluang usaha. Akhirnya ia berunding dengan tiga temannya dan sepakat mendirikan usaha bersama di bidang ekspor sepatu anak-anak. Mereka mendirikan perusahaan yang diberi nama PT Pariarti Shindutama.

Modal patungan senilai Rp150 juta mendatangkan keuntungan. Apalagi perusahaan ini kemudian mendapatkan pesanan dari Italia dalam jumlah besar. Nyatanya kesuksesan usaha sepatu anak-anak tak mampu meredam keinginan seorang Chairul untuk memiliki usaha sendiri.

Saat keinginannya itu tak terbendung, ia akhirnya memilih berpisah dengan ketiga temannya. Sebuah kepurusan sudah diambil dan kini saatnya membuktikan diri.

Kelahiran Chairul Tanjung (CT) Corp

Pengalaman dan semangat yang dipelajarinya selama menekuni usaha sendiri dan juga bergabung dengan teman-temannya telah membentuk jiwa bisnis yang andal pada sosok Chairul. Akhirnya ia mendirikan perusahaan bernama Para Inti Holdindo.

Nama Para Inti Holdindo akhirnya diubahnya menjadi CT Corp pada tanggal Pada 1 Desember 2011. Nama CT Corp ini dipertahankan Chairul Tanjung hingga saat ini, dengan memiliki 3 anak perusahaan yaitu Mega Corp, CT Global Resources dan Trans Corp atau Trans TV.

Baca Juga:

Kisah Sukses Anak Yatim Piatu Jadi Pengusaha Herbal

Kisah Sukses Sugimun, Bos 3 Toko Elektronika yang Kerap Dianggap Pengemis

Pesan Seorang Ustaz untuk Istrinya, Mengejutkan!

Danu, Sarjana Teknik Lingkungan yang Memilih Jualan Air Galon

Buket Balon Wisuda dan Ulang Tahun Kreasi Nurul yang Menggoda

Ia pun mulai memetakan bisnisnya dengan memusatkannya pada 3 bidang yaitu keuangan, muktimedia dan properti. Untuk mengelola bidang keuangan, Chairul mendirikan perusahaan bernama Para Global Investindo. Bidang multimedia dan investasi ditangani sendiri oleh manajemen Para Inti Investindo dan Para Inti Propertindo untuk menjalankan usahanya di bidang properti.

Salah satu keberanian lelaki ini dalam dunia bisnis ialah mengakuisisi perusahaan lain, ketimbang membangunnya dari awal. Namanya mencuat sejak mengambil alih Bank Karman yang lantas digantinya dengan nama bank Mega. Chairul juga membeli sebagian besar saham Carefour Indonesia sebesar 40 persen melalui perusahaannya yang bernama Trans Corp.

Jatuh Bangun Besarkan Trans7

Pada tahun 1999, Chairul mendirikan PT Televisi Transformasi Indonesia atau Trans TV. Perkiraannya, dana yang dibutuhkan sekitar Rp150 miliar.

Ia hanya memiliki uang Rp50 miliar. Sisanya pinjam ke bank. Dengan uang itu dibangunlah beberapa studio dan gedung serta merekrut 250 karyawan pada tahun 2000. uang Rp150 miliar rupanya tak cukup. Ia pun menutang lagi sampai habis sekitar Rp400 miliar. Chairul pun mengajukan kredit saat Trans TV akan mengudara Desenber 2011.

Trans TV memulai siaran percobaan pada Desember 2001 selama 12 jam. Sejak September 2012, melalui tema September Ceria, siaran Trans TVbertambah menjadi 20—21 jam.

Akhirnya pinjaman Bank Mandiri cair Rp300 miliar. Sebulan uang itu habis. Chairul baru menyadari ganasnya bisnis televisi. Awal-awal beroperasi, Chairul harus nombok Rp30 miliar per bulan. Padahal penghasilannya tak sebanding dengan modal yang sudah ditanamkan.

Sukses mendirikan usaha bersama teman, namun Chairul Tanjung memilih membangun usahanya sendiri. Foto – instagram.com/putri_tanjung

September 2008 Trans TV mengubah strategi pemrograman, dari semula membeli banyak program dari luar, kemudian membuat program sendiri. Dengan begitu, Trans TV bisa mengontrol program dengan biaya produksi yang rendah seperti membuat program kuliner.

Hasilnya, kinernya televisi tersebut terus naik secara konsisten sampai puncaknya pada 2008, dengan pendapatan melebihi angka Rp1 triliun. Sejak saat itu, Trans TV menjadi penyumbang arus kas yang luar biasa untuk CT Corp dalam membiayai berbagai akuisisi. Waktu itu, Trans TV berada di urutan pertama di industri televisi Indonesia.

Pada 2006, Charul Tanjung pun mengakuisisi TV7 milik Kelompok Kompas Gramedia (KKG) dan mengubah namanya menjadi Trans7.

Kedua televisi inilah menjadi penyumbang kekayaan terbesar untuk Chairul Tanjung (CT) dengan pendapatan mencapai triliunan Rupiah. Media massa lain yang ada di bawah payung usahanya ialah Detik.com, dan CNN Indonesia. *** -Nurali Mahmudi-

Referensi:
– wirabisnis.com/2019/02/kisah-sukses-chairul-tanjung-si-anak.html
– emerhub.com/id/bisnis/chairul-tanjung-dibalik-kesuksesan-trans-tv/

1 thought on “Kisah Sukses Chairul Tanjung, Anak Singkong yang Jadi Konglomerat

Comments are closed.