Kata Alm Bapakku: Le, Amplop Kuwi…

Foto – pixabay/gellinger

GOODAY – Tiba-tiba saja aku teringat almarhum bapak. Bapakku, kepala SD di kampung, lahir dan besar di kampung. Lewat perjuangan menjadi pendidik, dan mengajar anak-anak kampung. Lantas, apa hubungannya antara bapakku dan amplop?

Soal amplop, sebenarnya baru saja kata ini mampir di kepalaku. Saat seorang teman mengirim sebuah link berita dari portal tepercaya tentang aksi demonstrasi penolakan hasil rekapitulasi KPU di Jakarta. Hari ini, ya hari ini. Bahkan saat tulisan ini aku buat, aksi masih terjadi di kawasan Tanah Abang, Jakarta.

Di berita itu dituliskan polisi menemukan ambulans berisi batu, lalu amplop-amplop berisi uang. Saat itu juga aku teringat bapakku almarhum.

Bapak memiliki kebiasaan mengambil selembar amplop dari laci meja kerjanya saat ada orang menikah. Atau ada tetangga menyunatkan anaknya. Dua hal itu yang paling kuingat, sebagai alasan bapak mengambil amplop.

Bapak bahkan beberapa kali membiarkan aku memasukkan uang kertas ke dalam amplop itu.

“Amplop kuwi nggo ngisi duit sumbangan, Le. Yo ngene iki carane urip ning ndeso, ono sing nyumbang duit, ono sing beras opo gulo,” kata bapakku suatu ketika.

(Amplop itu untuk diisi uang buat sumbangan, Nak. ya begini caranya hidup di kampung, ada yang menyumbang uang, ada yang beras atau gula)

Dari sana aku memhami fungsi amplop, tanpa harus membuka artinya di kamus besar Bahasa Indonesia. Apalagi kamus online. Jangankan jaringan internet, ponsel saja belum kebayang. Kalau telepon-teleponan sudah tahu. Dari potongan bambu, salah satu ujungnya ditutup plastik. Dimasukkan benang, lalu diikatkan pada sebatang lidi pendek sebagai pengait di plastik tadi.

Lalu benang direntangkan. Saat aku mendekatkan mulutku ke corong bambu tadi, temanku di seberang harus mendekatkan telinganya. Begitu sebaliknya. Aku rasa tak ada yang menyadapnya.

Hingga suatu saat aku juga harus sunat. Sehabis maghrib, setelah sunat aku duduk di ruang tamu. Banyak teman-teman di kampungnya datang. Sudah tradisi jika ada teman sunat, anak-anak kecil juga boleh datang sambil membawa amplop.

Wuih, senangnya. Bayanganku sama seperti melihat Bapak mengeluarkan amplop. Pasti isinya uang.

Dan memang begitulah adanya, amplop-amplop dari teman-temanku di kampung diisi uang. Tidak semuanya. Ada yang kosong, ada yang diisi badge untuk baju sekolah. Yang penting malam itu semuanya berdoa agar aku segera sembuh.

Dan begitulah amplop itu. Saat bapakku masih hidup, sampai kini hampir empat tahun meninggalkanku, amplop itu memang untuk diisi uang. Oh, ya, selain untuk diisi uang juga surat izin kalau sakit. Mungkin untuk fungsi kedua sudah bukan zamannya lagi.

Sekarang ada WhatsApp, aplikasi pesan singkat yang populer. Izin tak masuk sekolah pakai WA, putus pacaran pakai WA, sampai ngomel-ngomel pun pakai WA.

Kembali ke amplop di aksi massa 22 Mei 2019 hari ini. Amplop itu masih tetap fungsinya. Diisi duit lalu diberikan kepada seseorang dengan maksud tertentu. Jika tanpa maksud tertentu namanya diberi. Diberi saja. Ikhlas. tanpa ada syarat harus begini, begono, begunu dan sebagainya.

Amplop-amplop bertebaran di sudut negeriku. Melintasi ruang dan waktu. Amplop ini menyeret hakim, jaksa, anggota dewan, bupati, walikota, jenderal, camat, lurah dan masih banyak lagi. Penjaara semakin sering dibuka tutup karena amplop dan isinya.

Dan aku teringat lagi kata bapakku. Masih soal amplop.

“Nek suk awakmu sugih, amplope diisi sing akeh. Niati bismillah nggo mbantu wong liyo,” begitu pesan Bapak.

(Kalau kamu nanti kaya, isilah amplop dengan uang yang banyak. Niati dengan Bismillah untuk membantu orang lain).

Saya sedih saat mengetik kalimat di atas. Pesan Bapak yang akan aku ingat sampai aku tak bisa mengingat. ***

Recommended For You

About the Author: Nurali

Lahir di Desa Bermi Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru SD. Mencoba menulis, menyanyi dan melukis, akhirnya hanya menulis yang tetap dilakoni. SD di kampung, SMP di Gembong, melanjutkan di SMAN 1 Pati, kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Peserta berbagai pelatihan jurnalistik dan beberapa tulisannya memenangi lomba tulis tingkat lokal dan nasional. Sempat bekerja di sejumlah koran cetak, dan kini menjabat sebagai Redpel suarasiber.com