free page hit counter
Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib Provinsi Kepri di Tanjungpinang. Foto - gooday

Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib Provinsi Kepri di Tanjungpinang. Foto - gooday

Karena Dua Botol Air Panas, Doaku untukmu, Mbak…

GOODAY – Air panas bukan hal besar ketika kita ada di rumah. Bukan jadi persoalan ketika kita tengah ngopi di kedai. Namun di rumah sakit, air panas bisa menjadi barang teramat penting untuk saudara, teman, keluarga kita yang tengah dirawat dan membutuhkannya.

Belum ada seminggu yang lalu, saya turun dari lantai empat rumah sakit di Batu 8, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri itu. Karena memang dibutuhkan, saya membawa termos kecil untuk mencari air panas. Sebenarnya di basemen rumah sakit yang diberi nama Raja Ahmad Tabib ini, ada fasilitas ini. Namun kalau menjelang malam tak ada lagi.

Saya berjalan ke belakang, melewati jalan samping rumah sakit yang didominasi cat warna biru muda itu. Alhamdulillah, masih ada salah satu kantin yang buka.

Ketika saya datang, seorang perempuan muda tengah berbincang dengan seorang lelaki. Saya menunggu. Selain mereka, tak ada lagi manusia di kantin tersebut. Bahkan sebagian kursi di depan sudah ditumpuk.

Saya bertanya apakah ada air panas. Si Mbak melihat saya membawa termos mengangguk.

“Namun tunggu sebentar ya, Pak,” katanya.

Saya mengangguk, duduk di kursi. Lalu saya letakkan termos kecil di tangan ke atas meja. Saya menunggu.

Dari suara cetek cetek, saya tahu Si Mbak tengah menyalakan kompor gas untuk memasak air pesanan saya. Tak butuh lama, kira-kira 10 menit kemudian ia keluar dari dapur dan mengambil termos saya.

Ketika termos itu diberikan, saya bertanya.

“Berapa, Mbak?

“Nggak usah, Pak.”

“Oh, nggak papa, Mbak. Saya beli kok,” ujar saya.

Bukan untuk pura-pura meyakinkan. Sejak diminta tolong mencari air panas dari lantai empat yang ada dalam benak saya memang membelinya. Toh kalau di kantin tutup, saya pasti akan menyeberang jalan. Membeli air panas di kedai-kedai makanan tepi jalan raya di luar lingkungan rumah sakit.

“Bawa saja, Pak. Lagian saya juga sudah mau tutup, kok,” kata Si Mbak sambil menarik pintu kantinnya lalu menguncinya.

Saya beranjak sambil berdoa dalam hati. Senang rasanya ditolong orang saat butuh. Doa baik saya panjatkan untuk Si Mbak yang baik hati tadi.

Petang berikutnya saya kembali ke kantin itu. Namun saya membeli makanan ringan, selain air panas dengan termos yang sama.

Rupanya Si Mbak masih nggak mau diberi uang untuk satu termos air panasnya. Ketika ia menolak saya membeli air panasnya di hari pertama, saya berpikir karena ia buru-buru mau pulang. Namun ketika saya datang kedua kali, saya lihat kantinnya masih ada seorang pembeli selain saya.

“Mbak, makasih ya,” ujar saya.

Dan seperti yang pertama, saya juga berdoa kepada Gusti Allah, semoga Si Mbak dimudahkan rezekinya, dilancarkan segala urusannya dan bahagia dunia akhirat.

Kantin Si Mbak yang saya tak tahu namanya ini ada di paling ujung sebelah kanan kalau kita dari arah depan. Atau kantin pertama kalau kita parkir di halaman parkir dan keluar lewat jalan samping masjid rumah sakit, laliu belok kiri.

Kantin rumah sakit ini ada beberapa petak, ada di sebelah kanan jalan menuju pintu gerbang keluar.

Kantin-kantin ini merupakan pindahan dari basemen rumah sakit. Dengan lokasi yang jauh di belakang, kantin ini terlihat sepi. Salah satu penyebabnya, orang akan lebih dekat keluar ke kedai makan tepi jalan raya di sebelah rumah sakit atau di Jalan Deang Celak.

Kedainya lebih besar, lebih luas dengan menu yang lebih lengkap. Hal ini diakui oleh Si Mbak ketika di hari pertama saya membeli air panas di tempatnya.

Saya tanyakan apakah kios yang lain sudah tutup atau memang tak buka. Saya lihat, kantin rumah sakit ada tiga petak atau kios.

“Sudah tutup, Pak. Kalau malam sepi, tidak seperti dahulu,” ungkapnya.

Sepi saja masih mau menunggu orang seoerti saya, memasak air panas dan memberinya gratis. Padahal saat butuh harganya dibuat mahal sedikit asalkan di batas kewajaran pasti saya bayar.

Gooders yang baik hati di seluruh benua, percayalah masih banyak orang baik di sekitar kita. ***