free page hit counter

Bagi orang yang tak ingin hanya berdiam diri memenuhi mimpi, pekerjaan apapun bisa diburu. Bahkan pengojek sekalipun.

Hanya untuk Ngojek, Pria Ini Rela Tinggalkan Jakarta

Siapa tak kenal ojek. Ojek adalah salah satu moda transportasi yang pernah cukup populer, termasuk di Tanjungpinang sendiri. Bahkan dahulu ada yang memilih ngojek ketimbang pekerjaan lain. Padahal pekerjaan yang ditawarkan itu jika dipikir lebih bijaksana ya bagus untuk kelangsungan hidup.

Lalu dunia terus berputar, perkembangan zaman terus dilakukan. Yang dahulu dianggap hebat sekarang menjadi berkarat, yang dahulu dianggap mustahil kini menjadikan banyak orang berhasil. Salah satunya ya ojek. Berkat kemajuan teknologi, ojek kini tak sebatas nongkrong di pangkalan, melambaikan tangan jika ada warga melintas.

Perkenalkan ojek online. Salah satunya GoJek, yang diprakarsai PT Aplikasi Karya Anak Bangsa. Kali ini saya ingin mengulas tentang seorang driver yang baru saja mengantarkan dua posri sate ayam plus dua bungkus nasi ke rumah sakit tempat anak saya dirawat.

Lambe Njeplak, seperti namanya memang suka iseng, apa saja ditanya. Begitulah, ketika ojol (ojek online) yang mengantar pesanan datang. Mumpung masih ada waktu beberapa menit untuk berbuka puasa, saya pun melakukan “interogasi” hehehe.

Karena permintaannya, nama Ojol dari GoJek ini saya samarkan. Kita sebut saja Koje, dari kata ojek dibaca dari belakang. Pertama saya tanya beda ojol dan ojek konvensional, dia jawab pada dasarnya sama. Yang membedakannya hanya masalah malas dan tidaknya. Nah, kan, makanya jadi manusia jangan malas-malas. Jadilah ayam, pagi-pagi sudah keluar mematuk-matuk makanan.

Namun, kata Koje, menjadi ojol di Tanjungpinang masih lebih enak dibandingkan kota lain. Sekadar tahu ya, ternyata Koje ini kelahiran Jakarta. Tinggal di Tanjungpinang karena istrinya kebetulan orang sini. Sebelum menjadi ojol di Tanjungpinang, Koje pun sempat bekerja di Jakarta sebagai… ojol juga hehe. Oh iya, pernah juga mencoba bekerja di Batam selama beberapa bulan sebagai… ojol lagi hehehe.

“Ojek online di Tanjungpinang masih enaklah. Sehari kalau Rp200 ribu masih bisa,” kata Koje di depan pintu masuk RSUD Provinsi Kepri, sore tadi.

Namun, ada namunnya. Ojolnya harus rajin, jika penyakit malas hinggap, apapun jadi tampak sulit. Semua tergantung pada ojolnya. Koje punya cara tersendiri. Meski hanya ojol, namun ia memiliki jam kerja. Berangkat jam 06.00 lalu pulang pukul 17.00 WIB. Dalam rentang waktu itu ia mangkal di mana ia suka.

Dua bungkus sate kambing dan nasi yang diantar Koje ke RS.
Kan ojol, tinggal memantau aplikasi di androidnya. “Banyak teman-teman yang sudah mendapatkan Rp200 ribu lalu pulang. Padahal hari masih siang. Kan rezeki tak selalu bagus, siapa tahu besok tak seramai hari ini, mengapa tak dilanjutkan saja sampai sore?” tanya Koje. Tentu bukan kepada saya, karena saya bukan ojek.

Di Jakarta, sudah tidak lagi karena Koje harus mengikuti istrinya yang warga Tanjungpinang. Di Batam? Mau tahu cerita Koje menjadi ojol di Batam?

“Susah, terlalu banyak ojolnya. Tanjungpinanglah yang masih mudah mendapatkan penumpang,” kata Koje.

Sebelum di GoJek, Koje sempat juga menjadi driver sebuah ojol yang aplikasinya buatan warga Tanjungpinang. Sayangnya, aplikasi ini sangat kurang dipromosikan. Selain itu, kebanyakan yang menggunakan jasa Koje adalah penumpang yang kebanyakan mengaku teman pemilik aplikasi yang tengah digunakan itu.

“Ada perasaan nggak enak saja. Tetapi aplikasi yang buatan lokal itu memang kurang promosi, penumpang saya sepi,” tutur Koje terus terang.

Koje bisa saja tidak bercerita kepada saya. Toh semakin banyak orang memandang rendah ojol sepertinya justru keuntungan baginya, tak banyak pesaing. Toh ia dengan senang hati membuka rahasia. Padahal saya sudah bilang lho, saya ini wartawan. Bagi Koje, berbagi rezeki tidak ada salahnya.

Di ujung pembicaraan Koje menyesalkan beberapa teman yang sampai sekarang masih setia nongkrong di pangkalan ojek konvensional. Memang, untuk menjadi ojol di Gojek misalnya, usia sepera motor memang ditentukan. Selain itu senjata yang harus ada adalah ponsel android. ***

Tulisan ini sudah pernah saya posting di lambenjeplak.blogspot.com dengan judul Pendatang Ini Kantongi Rp200 Ribu Sehari dengan Mudah, Kerja Apa Dia?

2 thoughts on “Hanya untuk Ngojek, Pria Ini Rela Tinggalkan Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *